mylittlecanvas

If you can imagine it, you can realize it

Let’s Paint the School!

Project iseng2 melihat dinding sekolah yang kusam. Lumayan menularkan semangat nyoret-nyoret pake cat ke anak-anak sekaligus melestarikan motif-motif dayak yang mulai punah. Proyek ini masih setengah jalan. Moga-moga bisa selesai dalam waktu sebulan. Osh! Makasih untuk para anak-anak dan muda-mudi yang telah dan sedang membantu! 😀

Bersih-bersih dulu~

Bersih-bersih dulu~

IMG_0060

Saking semangatnya sampai nungging-nungging gitu si Dedi

IMG_0068 copy

Dedi-aku-Febri-Aldi-Beni

IMG_0102 copy

IMG_0979

IMG_0087 copy

Salah satu tembok di kelas 4

IMG_0090 copy

P-R-A-M-U-K-A

“Salam Pramuka!”
“Salam.. Salam.. Salam..”
“Adakah pramuka di hatimu?”
“Ada!”
“Mana dia?”
“Ini dia!”

Saat SD dulu, ekskul pramuka adalah saat-saat favoritku. Bermain, menyanyi, belajar sandi-sandi, dan lain sebagainya. Karenanya saat melihat-lihat hutan sekitar desa aku langsung antusias; banyak tempat asik untuk dijelajahi!

Murid-murid sangat bersemangat setiap kali diumumkan akan pramuka. Entah itu kemping di pantai (sebutan mereka untuk pinggir sungai), memancing ikan, atau mencari buah dan jamur. Mereka terlihat kecewa saat bukan giliran mereka untuk pramuka. Dengan berat hati aku selalu membagi kegiatan menjadi kelas 3-4 dan 5-6, karena tidak efektif untuk mengajak 80 anak sekaligus ke dalam hutan.

Kali ini giliran kelas 4. Kami memutuskan untuk pergi ke Gurung Perangai. Gurung artinya batu-batu besar, dan memang banyak batu besar di sekeliling air terjun tujuan kami. Perjalanan menuju perangai memakan waktu sekitar 20 menit melewati hamparan padang rumput, hutan, dan aliran sungai. Ini termasuk tempat favoritku untuk bersantai. Suasana disana sejuk, banyak pepohonan dan akar gantung untuk dipanjat, serta bebatuan untuk tempat meloncat. Seru!

Sesampainya disana anak-anak berkumpul berdasarkan kelompok masing-masing, membuat yel-yel dan menampilkannya di depan yang lain. Anak yang paling pemalu sekalipun harus ikut maju, walau kadang suaranya tidak terdengar. Tak mengapa, yang penting dia sudah berhasil mengalahkan ketakutannya.

Beberapa permainan pun menyusul. Lomba tangan laba-laba, pesan berantai, sampai lomba berenang ke ujung kolam. Selesai  bermain, waktunya mandi! Kami semua langsung antri memanjat ke air terjun. Ada yang dari level 1 yang tingginya 4 meter, bahkan ada yang berani dari level 2. Dinginnya air diwarnai canda tawa dan pekikan gembira. Sore yang menyenangkan bagi semua! 😀

2

Hip-hip-hurrayy!!!

1

Boh kita angkat!

Menyusuri hutan dan sungai

Ha-ha-ha

Ha-ha-ha

Gurung Perangai!

Gurung Perangai!

Siapa meh huluk sampe sebrang?

Siapa meh huluk sampe sebrang?

7

8

Boh mule Kelas Pelangiku sayang

Bintang-bintang itu Masih Tertutup Awan

“Kak, mau minta masukan deh. Kalau ada masyarakat yang susah banget untuk gerak, padahal mereka sudah sadar akan kebutuhannya. Mending didiemin atau inisiasi sesuatu dengan resiko waktu nanti pergi kegiatan itu akan hilang?”

“Hahahahaha… Stimulus saja dulu, Dek. Seringkali orang perlu dicontohin dulu… Soal risiko akan hilang sepeninggalmu, biarlah itu ‘urusan Tuhan’.”

Pertanyaan bodoh. Aku tahu itu. Akupun merasa retoris saat mengetiknya. Lelah, dan bingung. Aku hanya butuh penguatan, syukur-syukur  ide atau masukan yang dapat diterapkan.

Mari aku ceritakan sedikit tentang masyarakat disini. Desa Kepala Gurung terletak di kaki perbukitan berselimut hutan lebat. Ada ±200 KK yang mata pencaharian utamanya ngaretdan berladang. Berbeda dengan penghuni Kapuas yang berlimpah madu dan ikan, suku Dayak pedalaman tidak memiliki alternatif sumber alam, sehingga sebagian besar pemuda dan bapak-bapak memilih kerja mencari emas/kayu gaharu ke luar desa. Dikurangi ibu-ibu yang berladang dan ikut kerja emas, desa relatif sepi pada siang hari.

Dari segi akses jalan, desaku termasuk lumayan setelah dibukanya jalur darat. Ditambah PLN yang mulai berjalan bulan Mei ini. Yang menjadi masalah adalah pola pikir. Entah mengapa masyarakat sini amat pasif, apalagi bila melakukan sesuatu yang tidak ada imbalan. Kalau bergaji, wuih,, jangan ditanya. Yang super malas saja mendadak rajin. Semisal di pemilu kemarin. Kesal rasanya melihat orang sedesa rela kerja 2-3 hari penuh demi 150.000 rupiah, padahal biasanya diajak turun kegiatan gereja pun sulit. Masalah perut memang. Itu artinya pemerintah belum berhasil membuat kenyang rakyatnya, kata seorang tetangga. Pemerintah? Atau kurangnya usaha?

Ngomong-ngomong masalah pemilu, suara ternyata masih murah disini. Rp 50.000,-/orang cukup untuk membeli demokrasi. Serangan fajar lebih sukses dari mereka yang sudah bersumbangsih bertahun-tahun untuk membangun desa. Itu yang menjadi wacana bulan ini : untuk apa berjuang bila rakyat lebih mengingat selembar kertas biru kemarin sore daripada kebaikan dan keringat? Lebih baik uang kampanye baru dihamburkan H-1 pemilihan. Lebih meriah, lebih banyak suara.

Desa temanku di hulu Kapuas sana lebih miris lagi. Walaupun selaku PM kita disarankan netral, kepala desa justru memaksanya mencoblos dan menunggui sampai ikut masuk ke bilik suara. Pelecehan. Parahnya lagi, kertas suara kosong yang tersisa kompak dibagi-bagi ke beberapa calon yang berkuasa disana. Cih, sekalian saja ludahi kata demokrasi itu.

Kembali ke masyarakat desa. Tidak semuanya pasif, memang. Masih ada para muda-mudi, anak smp yang turut membantu kegiatan-kegiatan. Melatih bola untuk porseni, pramuka, mural sekolah. Tapi itu semua masih atas inisiasi PM. Belum ada gerakan dari desa semisal PAUD atau ibu-ibu PKK. Padahal banyak potensi yang bisa dikembangkan di waktu luang, sebut saja kesenian menganyam rotan dan merangkai manik khas Dayak. Aku yakin, kalau diusahakan pasti bisa mencari jaringan untuk mengekspornya ke luar Kalimantan, atau luar Indonesia. Tapi begitulah, mereka sudah sadar akan kebutuhannya, namun masih pasif berusaha.

Alasan. Hal ini selalu ada untuk dikemukakan. Pemimpin ibadat yang aroganlah, kepala sekolah yang korupsi dana BOS, ketua pemuda yang tidak aktif, dsb dsb. Guru-guru sibuk bergunjing, protes di belakang tanpa berani bertanya langsung. Lalu sekarang, saat kepsek sudah diganti, transparansi BOS terang-benderang, apakah perilaku mereka berubah? Boro-boro. Tingkat ketidakhadiran masih tinggi, apalagi untuk les tambahan dan ekskul. Sekarang alasannya kepsek baru tidak serajin dan tepat waktu seperti yang lama. Padahal aku selalu salut pada beliau yang tiap pagi menempuh 2 jam perjalanan ke sekolah, itu pun kadang beliau datang lebih cepat dari guru-guru yang rumahnya dekat. Malas, cetus mereka. Anak buah kan mengikuti kepalanya. Huh, alasan memang tidak pernah usai.

Genap 10 bulan sudah aku di desa. PM angkatan VIII sudah memulai pelatihan minggu ini, penanda waktu tongkat estafet sebentar lagi harus diserahkan. Entahlah apakah peranini sudah kujalankan dengan maksimal, atau PM hanya dianggap sebagai guru bantu, pemberi les gratisan, dan tenaga sukarela multi-tasking. IM memang bukan bertujuan untuk menyelesaikan semua masalah, tujuan gerakan ini adalah mengajak semua pihak turun tangan. Mungkin hasilnya belum terlihat sekarang, mungkin bintang-bintang itu masih tertutup awan, namun melihat semangat antusias dan kekritisan anak-anak itu, aku jadi tak sabar melihat perkembangan desa ini 10 tahun yang akan datang!

Menanti Jatuhnya Si Raja Buah

“Blugh!”

Serentak belasan kaki berpacu mencari sumber suara itu. Semua langsung bergerilya menerobos semak belukar, menyibak dedaunan, sembari sesekali menjerit kala tak sengaja tergigit penyengat.

Sigi!” Teriakku penuh kemenangan. Tanpa sengaja senterku menyorot buah berduri itu. Padahal aku berlari paling belakang, jauh tertinggal dari anak-anak.

Malam ini aku bersama  5 orang anak pergi ngelayah dian ke bukit, berburu buah durian yang mulai berjatuhan. Bulan November-Februari memang waktunya musim buah-buahan.Pohon rambutan, rambai, langsat, cempedak, empakan, manggis, dan yang paling kutunggu-tunggu: durian. Durian tidaklah sama seperti buah jambu atau rambutan yang bisa dipetik atau dikocok langsung dari pohonnya. Kita harus menunggu sampai dia matang benar dan jatuh dengan sendirinya dari pohon. Memang menguji kesabarandankeberuntungan, kawan, tapi itulah tantangannya. Kadang kami hanya mendapat satu-dua setelah ngelayah seharian, namun pernah pula kami mendapat hampir 40 biji sampai tidak terbawa semuanya. Kalau sudah begitu, kami bisa sepuasnya memakan buah keemasan yang lezat itu.

Kurang lebih 45 menit berjalan melewati pepohonan dan aliran sungai, sampailah kami di kaki bukit. Permukaan air disini mudah naik saat hujan. Bila terjebak hujan saat sedang berada di bukit, kami harus berenang melawan arus yang kuat. Tak jarang sendal jepit atau barang yang dibawa hanyut menjadi korban.

Kutatap pohon durian di atasku. Rantingnya melengkung menahan beban puluhan buah durian sebesar paha. Tahun ini pohon-pohon buah tidak terlalu lebat berbuah, kata orang desa. Tapi buatku yang biasanya hanya melihat tumpukan buah di supermarket, memandang siluet buah-buahan  yang bergantungberlatarkan purnama menjadi keindahan tersendiri.

Sigi!”, “sigi!”, “sigi!” pekik riang anak-anak terdengar sahut menyahut membelah malam. Abang Mela, salah seorang muridku di kelas 4, sangat jago dalam urusan ngelayah. Dengan cepat dia sudah mendapat 4 durian, anak-anak yang lain 1-2 buah, sementara tanganku masih kosong. Dasar orang kota, dudul banget kalau soal ginian, sungutku dalam hati. Beberapa kali kami mengaduh saat menginjak sarang semut merah tanpa sengaja, atau tergigit penyengat penyebab bengkak sebesar telur puyuh, namun semangat 45 kami tak surut demi durian.

Sabit kami (keranjang rotan tempat membawa hasil hutan) mulai terisi, beberapa buah dibuka untuk mengusir rasa lapar. Nyumm,, durian sini berbeda dengan yang biasa kumakan. Berdaging tebal, manis dan lembut. Ada bermacam-macam jenis durian; durian pala buaya yang berukuran super besar, durian terung yang mungil namun legit, durian merah yang rasanya seperti mangga, dan banyak lagi. Favoritku adalah durian tinggi bumbung, rasanya manis legit dan sedikit ada  rasa susu.

Kalau urusan alam, anak-anak sini jangan ditanya deh. Banyak hal yang harus aku pelajari dari mereka. Mulai dari cara memilih tumbuhan hutan mana yang beracun mana yang aman dijadikan sayur, memotong kayu api, berladang, memanah ikan, atau sekedar cara melempar batu agar bisa memantul sampai seberang sungai. Di luar sekolah, tidak ada posisi  guru dan murid di antara kami. Malah mereka yang selalu mengajariku, si orang kota yang rupanya selama ini hampir tidak pernah belajar apapun dari alam. Malu aku.

Anak-anak selalu memberi lebih dari yang bisa kita berikan. Mereka senang berbagi, sedikitpun pasti dibagi. Bila ada anak yang beli satu bungkus keripik, semua temannya (termasuk aku) diberinya. Tanpa diajari, jiwa berempati dan sosial mereka sudah terbentuk semenjak dini. Mungkin keterbatasan membuat manusia lebih manusiawi. Hampir semua muridku hidup di bawah garis kemiskinan, semua pernah merasa susah, sehingga saat berlebih mereka tak lupa dengan yang lain. Semoga sifat ini selalu terjaga sampai mereka dewasa nanti. *aminn..*

Untungnya, di detik-detik terakhir aku sukses mendapat durian yang baru jatuh dari pohon. Lumayan tidak terlalu useless.. 😀

-suatu malam di bulan Desember-

IMG_1901 copy

 

Namanya Simon

Namanya Simon.

Penampilannya kumuh, mengenakan celana pendek dan jaket hitam kusam yang entah kapan terakhir kali menyentuh sabun. Kulitnya selalu dekil; muka coreng-moreng, kuku hitam, dan kaki bersalut lumpur.

Sekali aku melihatnya diseret bapaknya. Dia berteriak-teriak tak berdaya sementara kedua tangannya dipegang seakan dia seekor anjing belaka. Sesekali rotan di tangan bapaknya memplasa tubuhnya yang mungil. Simon sudah tidak pulang ke rumah empat hari, kata teman-temannya. Dengan rasa kasihan aku hanya dapat memandang dari kejauhan, tak bisa berbuat apa-apa. Malam itu Simon diikat di tiang sampai pagi. Amukan dan amarah bapaknya hanya disambut dengan diam. Selalu begitu.

Di lain kesempatan mataku tertumbuk pada punggungnya yang tampak begitu kesepian. Orang bilang dia kurang kasih sayang di antara banyak saudara-saudara lain di rumah. Otaknya pintar, sayang dia lebih banyak dipakai untuk berbuat usil daripada belajar. Di antara kesulitan dan kejengkelan yang ditimbulkannya, tak urung timbul rasa kagum dalam hatiku.

Dia tampak begitu bebas.

Tak terikat dengan norma, tidak peduli dengan aturan, order. Dia seolah tidak peduli dengan nilai bagus yang bisa didapatnya dengan sedikit usaha, tidak peduli dengan aturan pertemanan, hierarki, birokrasi. Dengan santainya dia melenggang keluar dari tim porseni bola, sementara teman-temannya setia mengikuti latihan yang mengikat. Itulah Simon, seorang anarkis alami yang kutemukan di desa ini. Aturan dijadikan permainan olehnya, sistem dianggap tai kucing yang tak layak mendapat perhatiannya. Semua orang di sekitar memarahinya, mengancam, mengecam, namun dia tetap hidup dengan caranya sendiri.

Bebas bagai burung yang tak terkungkung sangkar.

Aku kagum, sekaligus benci dengannya.

Memang aneh, dulu aku mengagumi orang-orang yang berani menentang sistem, hidup menurut kata hatinya tanpa mengikuti arus kebanyakan orang. Tapi ketika aku menjadi bagian dari sistem, ketika aku yang menjalankan sistem itu, kehadiran orang seperti Simon merupakan halangan yang menyebalkan. Kelas yang teratur menjadi keos, permainan yang dibuat tidak berjalan, kesirikan timbul dari kalangan teman-temannya, yang membuat mereka turut bertingkah laku serampangan.

Segala sesuatu memang berbeda tergantung dari kubu mana kita memandangnya. Saat kita menjadi pengamat, mudah untuk menyenangi para pengacau yang tampak berani menentang kuasa. Namun saat ini, tak bisa kupungkiri rasa kesal dan marah yang muncul setiap kali kulihat punggung itu. Lengkap dengan jaket hitam kusam yang entah kapan terakhir kali menyentuh sabun.

Kepala Gurung, 19/11/13