About

Pembelajaran bisa didapat dimana saja, kapanpun, dan dari siapapun. Melalui percakapan ringan, nongkrong sampai pagi disertai segelas teh hangat dan potongan roti bakar, atau dari supir angkot yang kebetulan bercerita tentang hidupnya, dari catatan harian seorang kriminal sampai tentu saja mata kuliah formal yang sedang kuikuti.

Aku adalah orang yang tidak mempedulikan sumber ilmuku. Aku tidak peduli apakah yang menasehati dan berdiskusi denganku adalah orang miskin, berandalan, ateis, komunis, gay. Apapun latar belakang mereka, aku menganggap mereka setara, kalau bukan lebih, dengan orang-orang kaya, religius, rajin, yah pokoknya orang-orang ideal menurut standar normal masyarakat.

Banyak yang tidak sepakat denganku tentu saja. Seperti teman-teman dari kelompok persekutuan. Mereka heran terhadap orang-orang yang tidak percaya Tuhan, atau orang-orang yang tidak menganut suatu agama, melainkan mempelajari semuanya demi menemukan apa β€˜Tuhan’ mereka. Orang-orang itu sesat, kata mereka. Sebaiknya kita mendoakan supaya Tuhan menjamah orang-orang itu.

Sebaliknya, teman-teman dari golongan kafir menganggap kelompok religiuslah yang aneh, dengan segala kepercayaan terhadap dogma-dogma yang seringkali tidak berdasar kecuali pada setumpuk tulisan berjudul kitab suci.

Sedangkan aku? Ya itu tadi, aku tipe orang yang haus belajar. Haus untuk mengetahui banyak hal. Aku belajar banyak dari teman-teman religius dan mahasiswa-mahasiswa berprestasi berIP tiga koma, sama banyaknya dengan ilmu yang saya dapat dari teman-teman yang dianggap kafir dan pelanggar aturan oleh kebanyakan orang.

Aku memiliki batasanku sendiri, bukan batasan yang didirikan oleh agama atau paham tertentu, tapi batasan yang aku buat sendiri berdasarkan aspek kemanusiaan yang kupahami. Aku masih percaya Tuhan, baik Tuhan alamiah maupun Tuhan personal. Aku hanya tidak bisa menerima seratus persen doktrin yang diberikan. Lebih baik aku mencari, kalau perlu sampai ke titik nihilisme, untuk mengisi kembali dengan apa yang saya anggap baik dan benar.

Aku memiliki banyak topeng. Sampai-sampai terkadang aku tidak merasa bebas. Ke-aku-anku telah terebut lyan, aku yang sebenarnya (kalau memang ada) terlalu takut tertolak, dan aku merasa topeng-topengku bisa membantuku menelusuri kehidupan.

Makanya aku tertarik dengan mereka yang berani melawan arus, dengan mereka yang tidak peduli dengan perkataan orang lain, dengan mereka yang egonya kuat, sehingga aku percaya bahwa sebenarnya setiap orang pasti memiliki ke-aku-annya masing-masing.

Nobody realizes that some people expend tremendous energy merely to be normal. – Albert Camus

Advertisements