Crazy Time..!!

by mylittlecanvas

Belakangan aku mulai mempertanyakan lagi arti kebebasan. Semakin kehilangan rasa empati, tenggelam dalam rutinitas kantoran, dan malas berpikir yang berat-berat sudah lama kurasakan. Yah, manusiawi. Kejar duit jangan nanggung-nanggung, harus fokus. Haha, seperti biasa temanku yang satu itu memang selalu nyinyir dengan keseharian.

Masuk pagi, marah-marahin team, baik-baikin customer, nongkrong, tidur. Untungnya disini aku menemukan dua sahabat yang menyenangkan, bahkan mereka bisa menghibur di tengah ruwetnya lalu lintas Medan yang luar biasa tidak teratur. Sebut saja namanya Ray dan Abba.

Si Ray ini senasib denganku, terseret arus mainstream untuk bertahan hidup. Walau aku bekerja untuk perusahaan swasta dan dia bersumbangsih dalam mengumpulkan pundi-pundi negara, tetap saja judul utama kami adalah bekerja untuk diri sendiri.

Nah, si Abba ini nasibnya tidak begitu beruntung. Dengan paras ganteng dan tubuh tinggi, seharusnya dengan mudah dia mencari pekerjaan sebagai model atau sales marketing. Sayangnya, title refugee melarangnya untuk melakukan hampir semua hal. Dia tidak boleh bekerja, mencari uang, berbisnis, bahkan bergaul akrab dengan orang Indonesia. Untung dia cukup bandel, hampir setiap malam kami habiskan bertiga di tengah ketidak jelasan.

Balik lagi ke topik kebebasan. Kalau dilihat-lihat, orang awam umumnya akan bilang kalau Ray sudah bebas menikmati hidup dan Abba terkekang dalam statusnya. Yang satu cukup mapan untuk bersenang-senang, sementara yang lain harus menggantungkan hidup pada sedikit jatah dari U*HCR.

Tapi terkadang, aku justru salut (kalau bukan iri) melihat Abba. Dengan ekspresi sumringah setiap hari dia terlihat lebih menikmati hidup dibandingkan aku dan Ray. Jarang aku melihatnya stress, marah-marah, tertekan, emosi. Malah justru dia yang kerap menjadi penggembira, menghibur kami-kami yang sering kumpul dengan ekspresi muka terlipat sepulang kantor.

Akhir minggu lalu kami ke Sibayak, merayakan ulang tahun Ray. Sunrise yang indah, dilengkapi pemandangan yang menyegarkan mata. Kawah berasap, cekungan lembah dikelilingi pegunungan yang cantik, dan mi instan bakso menghibur semuanya. Di perjalanan turun entah kesambet apa si Abba menyetel speaker dengan volume (nyaris) maksimal. Tentu saja semua orang melirik ke arah kami.

Malu oi,” sikutku jengah.

Tidak apa-apa, ayo dancing kita,” sahutnya pede jaya.

Akhirnya aku dan Ray ikutan joget-joget ga jelas. Tertawa dan berlari tanpa peduli orang-orang di sekitar. Toh (semoga) tidak ada yang kenal. Kami bertiga berkejaran, melompat, dan random mengajak orang untuk ikutan rekaman video selfie.

Dan itu sangat menyenangkan.

20 menit tanpa membatasi diri, mengabaikan gaze, me-nol-kan pikiran, menggerakkan badan sesuai insting dan tanpa kendali.

Super menyenangkan 😀

Crazy Timee..!!!” Teriak Abba dengan senyum sumringahnya seperti biasa.

Dan aku pun rasanya tersenyum sama lebar dengannya waktu itu.

 

DSC00931

Advertisements