Smile! :D

by mylittlecanvas

Yah, tidak apalah, toh demi menyenangkan nenek, pikirku saat diajak pergi tadi pagi. Padahal minggu pagi sama dengan tidur puas bagiku, hal langka yang jadi kenikmatan beberapa kali dalam sebulan.

Ritual yang sama, lagu-lagu serupa – hanya kali ini banyak lagu dalam bahasa Ibrani, dan orang yang terkantuk-kantuk. Ah, salam damai pun rasanya formalitas saja. Malah kadang bumbu senyum pun tidak ada lagi.

Saat tahapan sakramen hampir selesai, masuklah banyak anak-anak meminta berkat. Sekitar 50 anak berlompat dan berjalan cepat ke altar. Sepertinya mereka baru selesai sekolah minggu, dengan pembimbing mengarahkan jalan mereka. Agak gaduh, sedikit malu-malu, dorong-dorongan disana-sini. Suasana hening pecah jadi riuh.

Tapi bukan keramaian itu yang jadi fokusku. Melainkan ekspresi mereka. Entah apa sebabnya senyum polos tersungging lebar di wajah mereka, raut riang yang berbinar, menunduk sedikit saat Pastor menyentuh dahi mereka, lalu berjingkat mencari orang tua mereka. Tersenyum lebar dan cekikikan satu sama lain, tampaknya bahagia sekali. Seluruh ruangan terasa lebih hidup, senyum selalu jadi energi positif yang menular. Bahasa universal.

Dan aku terenyuh.

Di saat rasa skeptis dengan manusia meningkat, rasanya anak-anak selalu jadi obat mujarab yang menghilangkan itu semua. Setidaknya, manusia terlahir dengan senyum tulus dan cengiran lebar di wajahnya.

 

 

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka:

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya.” 

(Mark 10)

Advertisements