Menyentuh Batas Omega

by mylittlecanvas

 

Pernahkah kau berada dekat dengan kematian?

Aku pernah, dan kuharap aku tidak akan mengalaminya lagi.

Akhir November 2013, aku ‘kabur’ seminggu dari pekerjaanku untuk mengunjungi daerah penempatan seorang teman di Hulu Kapuas, Kalimantan Barat. Bersama 3 orang dari Net TV, kami berlima menaiki perahu 40 pk menuju Desa Bungan Jaya. Peristiwa itu terjadi di hari keempat aku disana. Hari minggu, tepatnya. Kami beserta anak-anak pergi ke hulu Sungai Bungan, bermain dan berenang di tempat berbatu-batu dan berarus lumayan kuat. Percaya diri dengan kemampuan berenangku, aku mengikuti anak-anak berenang ke seberang melawan arus. Aman, walau agak megap-megap aku sampai juga di pohon seberang. Lalu kami loncat-loncat dari pohon ke air.

Jbyurrr!” Percobaan pertama sukses. Dengan semangat kunaiki lagi pohon itu. Kali ini di tengah jalan aku tergelincir dan jatuh ke sebelah hilir. Awalnya aku tenang-tenang saja, menyelam dan berenang menuju tepi.

Eh, tapi kok aku malah terseret ke bawah ya? Kutendang-tendang kaki sekuat tenaga, tak ada hasilnya. Malah air semakin pekat, menandakan posisiku yang semakin tertarik jauh ke dalam air.

Pusaran air! Otakku berteriak. Aku semakin kalut menyepak ke segala arah. Oksigen menipis, paru-paruku seolah menjerit merindukan udara. Kutatap nanar ke atas. Biru toska di atas, bertemu dengan coklatnya pasir di bawah. Indah. Keindahan yang menakutkan. Dulu kukira sebelum mati pikiran akan penuh oleh imaji-imaji, hal-hal yang kita suka dan telah kita lewati, nostalgic dan memorial. Tapi ternyata… dalam keadaan hampir mati aku tidak memikirkan apa-apa, sepenuhnya pasrah pada kehendak tubuh yang mengikuti naluri untuk terus hidup. Mungkin pada dasarnya manusia tidak pernah melepas kodratnya sebagai binatang, yang bergantung pada naluri dan refleks menghadapi dunia di luar dirinya. Karena pikiran dan akal budi belum tentu berguna di setiap waktu.

Tubuhku mulai melemah, paru-paru yang tak kuat memaksa mulut menghirup. Hanya air yang tertelan. Glek! Glek! Setiap tegukan membuat dada semakin sakit. Sementara itu arus tak jua kehilangan kekuatannya, menyeret tanpa ampun. Baru kusadari kekuatan alam yang sebenarnya. Dia memang tidak main-main.

Untunglah, di saat pandangan mulai kabur, entah bagaimana tiba-tiba tubuhku terlepas dari pusaran air dan dapat didorong ke atas.

Fuwahhhh!!! Dengan lega kuhirup udara, merasakan nikmatnya oksigen memenuhi rongga dada. Sungguh, kenikmatan yang tidak dapat diceritakan, seperti orgasme kehidupan mungkin.

Kata orang, waktu yang terbatas membuat semuanya lebih berharga. Batasanlah yang membuat kita merasa memiliki, termasuk hidup. Jujur, aku agak merasa stagnan akhir-akhir ini. Sesuatu yang disuka bila dilakukan terus-menerus ternyata membosankan juga. Kadang hatiku menjerit, merasa terpenjara posisi dan aturan. Harus begini, harus begitu, tak bisa bebas seperti dulu lagi. Tapi apakah kebebasan? Seperti kata Minke tokoh buatan Pram itu, jangan mensalah artikan kebebasan. Kebebasan bukan berarti lepas dari semua kewajiban, atau ikatan. Semua orang terpelajar dalam kebebasannya mempunyai kewajiban-kewajiban tak terbatas buat kebangkitan bangsanya masing-masing. Dan mungkin untuk sekarang, hal inilah yang dapat kulakukan.

Dalam cerita Dragon Ball, bangsa Saiya akan menjadi lebih kuat setelah melewati keadaan hampir mati. Mungkin, sebenarnya bukan lebih kuat, melainkan lebih nekat. Untuk apa berhati-hati melewati hidup kalau akhir itu tidak dapat kita prediksi datangnya? Aku telah diberi umur tambahan, dan alangkah mubazir bila tidak menggunakannya untuk hidup menurut kata hati, untuk hanya terjebak dalam arus tuntutan. Warna hijau toska bercampur coklat itu akan selalu menjadi pengingat : Seize the day, rebutlah hari ini!

-November 2013-

Advertisements