Bintang-bintang itu Masih Tertutup Awan

by mylittlecanvas

“Kak, mau minta masukan deh. Kalau ada masyarakat yang susah banget untuk gerak, padahal mereka sudah sadar akan kebutuhannya. Mending didiemin atau inisiasi sesuatu dengan resiko waktu nanti pergi kegiatan itu akan hilang?”

“Hahahahaha… Stimulus saja dulu, Dek. Seringkali orang perlu dicontohin dulu… Soal risiko akan hilang sepeninggalmu, biarlah itu ‘urusan Tuhan’.”

Pertanyaan bodoh. Aku tahu itu. Akupun merasa retoris saat mengetiknya. Lelah, dan bingung. Aku hanya butuh penguatan, syukur-syukur  ide atau masukan yang dapat diterapkan.

Mari aku ceritakan sedikit tentang masyarakat disini. Desa Kepala Gurung terletak di kaki perbukitan berselimut hutan lebat. Ada ±200 KK yang mata pencaharian utamanya ngaretdan berladang. Berbeda dengan penghuni Kapuas yang berlimpah madu dan ikan, suku Dayak pedalaman tidak memiliki alternatif sumber alam, sehingga sebagian besar pemuda dan bapak-bapak memilih kerja mencari emas/kayu gaharu ke luar desa. Dikurangi ibu-ibu yang berladang dan ikut kerja emas, desa relatif sepi pada siang hari.

Dari segi akses jalan, desaku termasuk lumayan setelah dibukanya jalur darat. Ditambah PLN yang mulai berjalan bulan Mei ini. Yang menjadi masalah adalah pola pikir. Entah mengapa masyarakat sini amat pasif, apalagi bila melakukan sesuatu yang tidak ada imbalan. Kalau bergaji, wuih,, jangan ditanya. Yang super malas saja mendadak rajin. Semisal di pemilu kemarin. Kesal rasanya melihat orang sedesa rela kerja 2-3 hari penuh demi 150.000 rupiah, padahal biasanya diajak turun kegiatan gereja pun sulit. Masalah perut memang. Itu artinya pemerintah belum berhasil membuat kenyang rakyatnya, kata seorang tetangga. Pemerintah? Atau kurangnya usaha?

Ngomong-ngomong masalah pemilu, suara ternyata masih murah disini. Rp 50.000,-/orang cukup untuk membeli demokrasi. Serangan fajar lebih sukses dari mereka yang sudah bersumbangsih bertahun-tahun untuk membangun desa. Itu yang menjadi wacana bulan ini : untuk apa berjuang bila rakyat lebih mengingat selembar kertas biru kemarin sore daripada kebaikan dan keringat? Lebih baik uang kampanye baru dihamburkan H-1 pemilihan. Lebih meriah, lebih banyak suara.

Desa temanku di hulu Kapuas sana lebih miris lagi. Walaupun selaku PM kita disarankan netral, kepala desa justru memaksanya mencoblos dan menunggui sampai ikut masuk ke bilik suara. Pelecehan. Parahnya lagi, kertas suara kosong yang tersisa kompak dibagi-bagi ke beberapa calon yang berkuasa disana. Cih, sekalian saja ludahi kata demokrasi itu.

Kembali ke masyarakat desa. Tidak semuanya pasif, memang. Masih ada para muda-mudi, anak smp yang turut membantu kegiatan-kegiatan. Melatih bola untuk porseni, pramuka, mural sekolah. Tapi itu semua masih atas inisiasi PM. Belum ada gerakan dari desa semisal PAUD atau ibu-ibu PKK. Padahal banyak potensi yang bisa dikembangkan di waktu luang, sebut saja kesenian menganyam rotan dan merangkai manik khas Dayak. Aku yakin, kalau diusahakan pasti bisa mencari jaringan untuk mengekspornya ke luar Kalimantan, atau luar Indonesia. Tapi begitulah, mereka sudah sadar akan kebutuhannya, namun masih pasif berusaha.

Alasan. Hal ini selalu ada untuk dikemukakan. Pemimpin ibadat yang aroganlah, kepala sekolah yang korupsi dana BOS, ketua pemuda yang tidak aktif, dsb dsb. Guru-guru sibuk bergunjing, protes di belakang tanpa berani bertanya langsung. Lalu sekarang, saat kepsek sudah diganti, transparansi BOS terang-benderang, apakah perilaku mereka berubah? Boro-boro. Tingkat ketidakhadiran masih tinggi, apalagi untuk les tambahan dan ekskul. Sekarang alasannya kepsek baru tidak serajin dan tepat waktu seperti yang lama. Padahal aku selalu salut pada beliau yang tiap pagi menempuh 2 jam perjalanan ke sekolah, itu pun kadang beliau datang lebih cepat dari guru-guru yang rumahnya dekat. Malas, cetus mereka. Anak buah kan mengikuti kepalanya. Huh, alasan memang tidak pernah usai.

Genap 10 bulan sudah aku di desa. PM angkatan VIII sudah memulai pelatihan minggu ini, penanda waktu tongkat estafet sebentar lagi harus diserahkan. Entahlah apakah peranini sudah kujalankan dengan maksimal, atau PM hanya dianggap sebagai guru bantu, pemberi les gratisan, dan tenaga sukarela multi-tasking. IM memang bukan bertujuan untuk menyelesaikan semua masalah, tujuan gerakan ini adalah mengajak semua pihak turun tangan. Mungkin hasilnya belum terlihat sekarang, mungkin bintang-bintang itu masih tertutup awan, namun melihat semangat antusias dan kekritisan anak-anak itu, aku jadi tak sabar melihat perkembangan desa ini 10 tahun yang akan datang!

Advertisements