Menanti Jatuhnya Si Raja Buah

by mylittlecanvas

“Blugh!”

Serentak belasan kaki berpacu mencari sumber suara itu. Semua langsung bergerilya menerobos semak belukar, menyibak dedaunan, sembari sesekali menjerit kala tak sengaja tergigit penyengat.

Sigi!” Teriakku penuh kemenangan. Tanpa sengaja senterku menyorot buah berduri itu. Padahal aku berlari paling belakang, jauh tertinggal dari anak-anak.

Malam ini aku bersama  5 orang anak pergi ngelayah dian ke bukit, berburu buah durian yang mulai berjatuhan. Bulan November-Februari memang waktunya musim buah-buahan.Pohon rambutan, rambai, langsat, cempedak, empakan, manggis, dan yang paling kutunggu-tunggu: durian. Durian tidaklah sama seperti buah jambu atau rambutan yang bisa dipetik atau dikocok langsung dari pohonnya. Kita harus menunggu sampai dia matang benar dan jatuh dengan sendirinya dari pohon. Memang menguji kesabarandankeberuntungan, kawan, tapi itulah tantangannya. Kadang kami hanya mendapat satu-dua setelah ngelayah seharian, namun pernah pula kami mendapat hampir 40 biji sampai tidak terbawa semuanya. Kalau sudah begitu, kami bisa sepuasnya memakan buah keemasan yang lezat itu.

Kurang lebih 45 menit berjalan melewati pepohonan dan aliran sungai, sampailah kami di kaki bukit. Permukaan air disini mudah naik saat hujan. Bila terjebak hujan saat sedang berada di bukit, kami harus berenang melawan arus yang kuat. Tak jarang sendal jepit atau barang yang dibawa hanyut menjadi korban.

Kutatap pohon durian di atasku. Rantingnya melengkung menahan beban puluhan buah durian sebesar paha. Tahun ini pohon-pohon buah tidak terlalu lebat berbuah, kata orang desa. Tapi buatku yang biasanya hanya melihat tumpukan buah di supermarket, memandang siluet buah-buahan  yang bergantungberlatarkan purnama menjadi keindahan tersendiri.

Sigi!”, “sigi!”, “sigi!” pekik riang anak-anak terdengar sahut menyahut membelah malam. Abang Mela, salah seorang muridku di kelas 4, sangat jago dalam urusan ngelayah. Dengan cepat dia sudah mendapat 4 durian, anak-anak yang lain 1-2 buah, sementara tanganku masih kosong. Dasar orang kota, dudul banget kalau soal ginian, sungutku dalam hati. Beberapa kali kami mengaduh saat menginjak sarang semut merah tanpa sengaja, atau tergigit penyengat penyebab bengkak sebesar telur puyuh, namun semangat 45 kami tak surut demi durian.

Sabit kami (keranjang rotan tempat membawa hasil hutan) mulai terisi, beberapa buah dibuka untuk mengusir rasa lapar. Nyumm,, durian sini berbeda dengan yang biasa kumakan. Berdaging tebal, manis dan lembut. Ada bermacam-macam jenis durian; durian pala buaya yang berukuran super besar, durian terung yang mungil namun legit, durian merah yang rasanya seperti mangga, dan banyak lagi. Favoritku adalah durian tinggi bumbung, rasanya manis legit dan sedikit ada  rasa susu.

Kalau urusan alam, anak-anak sini jangan ditanya deh. Banyak hal yang harus aku pelajari dari mereka. Mulai dari cara memilih tumbuhan hutan mana yang beracun mana yang aman dijadikan sayur, memotong kayu api, berladang, memanah ikan, atau sekedar cara melempar batu agar bisa memantul sampai seberang sungai. Di luar sekolah, tidak ada posisi  guru dan murid di antara kami. Malah mereka yang selalu mengajariku, si orang kota yang rupanya selama ini hampir tidak pernah belajar apapun dari alam. Malu aku.

Anak-anak selalu memberi lebih dari yang bisa kita berikan. Mereka senang berbagi, sedikitpun pasti dibagi. Bila ada anak yang beli satu bungkus keripik, semua temannya (termasuk aku) diberinya. Tanpa diajari, jiwa berempati dan sosial mereka sudah terbentuk semenjak dini. Mungkin keterbatasan membuat manusia lebih manusiawi. Hampir semua muridku hidup di bawah garis kemiskinan, semua pernah merasa susah, sehingga saat berlebih mereka tak lupa dengan yang lain. Semoga sifat ini selalu terjaga sampai mereka dewasa nanti. *aminn..*

Untungnya, di detik-detik terakhir aku sukses mendapat durian yang baru jatuh dari pohon. Lumayan tidak terlalu useless.. 😀

-suatu malam di bulan Desember-

IMG_1901 copy

 

Advertisements