Sesederhana Kembali untuk Bersama

by mylittlecanvas

“Soalnya kan ga adil Miss, jadi kami balik lagi.”

Di tengah teriknya kemarau Borneo, Cipong mengajakku jalan-jalan ke Lubuk Tapang, dua desa jauhnya dari desaku bermukim sekarang. Jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 40 menit berjalan kaki. Bersama Marta, Atut, Ujang, dan Jeksen (namanya Michael Jeksen, lafal bule dengan penulisan Indonesia), aku berangkat berbekal kamera dan bumbu penyedap. Disana banyak belimbing untuk berujak, cetus anak-anak.

Seperti biasa, sepanjang jalan Atut dan Ujang banyak bertanya macam-macam. Mulai dari astronot, bulan, planet, sedikit mitologi Yunani yang pernah kuceritakan, sampai isu Suriah terbaru yang malah tidak kuketahui karena tidak memiliki radio di rumah. Sampai di Lubuk Tapang kami kandau (berkunjung) ke rumah pak Kepala Desa dan nenek Ujang. Dengan semangat anak-anak menyodok pohon belimbing dengan tongkat. Puluhan buah berwarna hijau dan kuning berjatuhan. Aku menggigit sebuah. Ugh, sangat asam. Tapi itulah yang digemari mereka untuk berujak. Berujak ala anak-anak sini bukan makan buah berbumbu kuah kacang pedas yang lezat, melainkan sekedar mencocol buah ke garam atau bumbu *sebut saja masako*. Asam, sepet, dan asin. Tapi membuat ketagihan.

Sehabis berujak kami kembali ke Kepala Gurung. Senja sudah tiba, langit berwarna biru keunguan. Lubuk Tapang-Landau Ijuk-Kepala Gurung. Di sebelah hilir Ijuk (mereka menyebut daerah hulu dan hilir sesuai aliran sungai), Atut dan Ujang berseru memanggil pengendara motor yang sedang melintas. “Ngimbai bang! Unjuk kami ke hilir kenyo!” (Ikut Bang! Antar kami ke hilir sana!). Entah kenal beneran atau nggak, si abang motor berputar arah mengantar Atut, Ujang, dan Jeksen. Aku, Marta dan Cipong terkesima sejenak. Mudah benar anak-anak itu mencari tebengan tanpa merasa malu. Kami bertiga melanjutkan langkah lebih cepat. Langit semakin gelap sementara tidak ada di antara kami yang membawa senter.

Saat kami mencapai jembatan antara Ijuk-Kepala Gurung, tiba-tiba tiga sosok bocah tampak berlarian menghampiri. “Lah, kenapa empu balik lagi?” Tanyaku sambil tertawa. Kami bertiga terbahak melihat tiga anak yang ngos-ngosan itu. Sudah enak-enak nebeng orang malah nongol lagi macam hantu.

“Kami sudah sampai di depan rumah tapi terus ga enak jadi balik lagi,” kata Ujang.

“Soalnya kan ga adil Miss, kita bertiga aja yang naik motor terus kalian capek jalan,” lanjut Atut. Jeksen mengangguk setuju.

Aku terharu mendengar paparan mereka. Di usia yang baru melewati jumlah jari tangan mereka sudah mengerti, setidaknya dapat merasakan, apa itu adil. Setara, sama rasa, sepenganggungan. Bahkan mereka rela lari jauh-jauh walau hari sudah gelap, meninggalkan kehangatan rumah yang sudah di depan mata. Cuma karena satu alasan : merasa memperlakukan manusia lain dengan tidak adil.

Jeksen-Marta-Ujang-Atut

Jeksen-Marta-Ujang-Atut

Advertisements