Namanya Simon

by mylittlecanvas

Namanya Simon.

Penampilannya kumuh, mengenakan celana pendek dan jaket hitam kusam yang entah kapan terakhir kali menyentuh sabun. Kulitnya selalu dekil; muka coreng-moreng, kuku hitam, dan kaki bersalut lumpur.

Sekali aku melihatnya diseret bapaknya. Dia berteriak-teriak tak berdaya sementara kedua tangannya dipegang seakan dia seekor anjing belaka. Sesekali rotan di tangan bapaknya memplasa tubuhnya yang mungil. Simon sudah tidak pulang ke rumah empat hari, kata teman-temannya. Dengan rasa kasihan aku hanya dapat memandang dari kejauhan, tak bisa berbuat apa-apa. Malam itu Simon diikat di tiang sampai pagi. Amukan dan amarah bapaknya hanya disambut dengan diam. Selalu begitu.

Di lain kesempatan mataku tertumbuk pada punggungnya yang tampak begitu kesepian. Orang bilang dia kurang kasih sayang di antara banyak saudara-saudara lain di rumah. Otaknya pintar, sayang dia lebih banyak dipakai untuk berbuat usil daripada belajar. Di antara kesulitan dan kejengkelan yang ditimbulkannya, tak urung timbul rasa kagum dalam hatiku.

Dia tampak begitu bebas.

Tak terikat dengan norma, tidak peduli dengan aturan, order. Dia seolah tidak peduli dengan nilai bagus yang bisa didapatnya dengan sedikit usaha, tidak peduli dengan aturan pertemanan, hierarki, birokrasi. Dengan santainya dia melenggang keluar dari tim porseni bola, sementara teman-temannya setia mengikuti latihan yang mengikat. Itulah Simon, seorang anarkis alami yang kutemukan di desa ini. Aturan dijadikan permainan olehnya, sistem dianggap tai kucing yang tak layak mendapat perhatiannya. Semua orang di sekitar memarahinya, mengancam, mengecam, namun dia tetap hidup dengan caranya sendiri.

Bebas bagai burung yang tak terkungkung sangkar.

Aku kagum, sekaligus benci dengannya.

Memang aneh, dulu aku mengagumi orang-orang yang berani menentang sistem, hidup menurut kata hatinya tanpa mengikuti arus kebanyakan orang. Tapi ketika aku menjadi bagian dari sistem, ketika aku yang menjalankan sistem itu, kehadiran orang seperti Simon merupakan halangan yang menyebalkan. Kelas yang teratur menjadi keos, permainan yang dibuat tidak berjalan, kesirikan timbul dari kalangan teman-temannya, yang membuat mereka turut bertingkah laku serampangan.

Segala sesuatu memang berbeda tergantung dari kubu mana kita memandangnya. Saat kita menjadi pengamat, mudah untuk menyenangi para pengacau yang tampak berani menentang kuasa. Namun saat ini, tak bisa kupungkiri rasa kesal dan marah yang muncul setiap kali kulihat punggung itu. Lengkap dengan jaket hitam kusam yang entah kapan terakhir kali menyentuh sabun.

Kepala Gurung, 19/11/13

Advertisements