Rumah Dinas. Aku, Mereka, Bulan dan Bintang.

by mylittlecanvas

Malam pertama di rumah dinas. Aku ditemani tiga anak lucu; Ita, Ipit, dan Susi. Baru datang saja mereka sudah memberikan contoh yang membuat malu. Dengan giat mereka membereskan barangku yang pabalatak tak karuan seperti bisa. Dalam hati aku langsung berpikir ‘Ini yang jadi role model harusnya sopo toh..?’ Lebih malunya lagi pas ada kodok besar yang masuk rumah. Bu guru satu ini malah loncat-loncat heboh menghindari si kodok yang loncat-loncat mendekati, sementara Susi dengan beraninya mengambil gagang sapu untuk mengusir si kodok tak tahu tempat itu. Haduhh.. muka tak tau lagi harus taro mana.

Di Kepala Gurung ini listrik desa hanya menyala jam 6 sore-10 malam. Setelah light off, kami menyikat gigi ditemani pelita. Cahaya purnama di atas bersinar terang, terlihat lebih besar di tengah pekatnya malam. Suasana damai dan tenang. Kami berempat lalu mengobrol santai di tempat tidur yang beratapkan kelambu putih.

IMG_1275

Beberapa teman yang strict dengan norma agama mungkin harus beradaptasi dengan masyarakat yang lebih bebas. Aku justru sebaliknya. Aku yang terbiasa dengan pemikiran bebas ditempatkan di tengah masyarakat yang 99,7%nya adalah nasrani. Posisi yang mau tak mau mengharuskanku melakukan atau berbicara hal-hal yang biasanya aku kritisi, karena kalau tidak, sangsi masyarakatlah yang berbicara. Malam itu anak-anak bertanya tentang perbedaan yang masih tidak mereka pahami.

Ipit : Bu, kenapa kalau orang muslim tidak boleh menggambar Tuhan sedangkan kita boleh?

Aku : Karena dulu tidak ada yang gambar Nabi Muhammad jadi mereka gatau deh gimana mukanya. Kalau kita kan sudah ada di gereja, jadi kula tau tuh bagaimana rupanya.

Kalau saja bisa rasanya aku ingin menceritakan bagaimana sebenarnya image yang kita kenal sekarang adalah ciptaan para seniman Renaissance, hasil imajinasi manusia yang lahir ratusan tahun setelah Kristus mati. Atau berdiskusi tentang simbol-simbol itu seperti malam-malam biasanya. Otak ini rasanya penuh tanpa ada saluran untuk mengeluarkan. Hati ini rasanya berat melihat anak-anak itu menatapku dengan wajah polos mereka, menelan mentah-mentah apapun yang kukatakan.

Begitu ayam berkokok kami terbangun. Lagi-lagi mereka dengan rajinnya langsung melipat kelambu dan mengeluarkan kasur untuk dijemur, sementara aku masih galai-galai (tidur-tiduran) malas di tikar.

IMG_1309

Kamar rumah dinas, rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu

Setiap pagi anak-anak jogging dan mandi di sungai. Sungai di tempat kami masih super jernih dan segar! Asik deh loncat nyebur dari bebatuan dan kayu di sepanjang sungai. Lalu anak-anak mungil umur 9-12 tahun berenangnya sudah jago nian, sampai kalah cepat aku. Itulah anak-anak Kepala Gurung Kapuas Hulu, anak-anak alam yang akan menemani perjalananku setahun ke depan. 🙂

IMG_1345a

IMG_1357

IMG_1383

Advertisements