Because it’s there, We have to ‘Der’ now!

by mylittlecanvas

“It’s about them, not me.”

Kalimat klise yang selalu terulang. Mudah diucapkan, namun sulit diamini, bahkan sampai minggu terakhir di camp. Tapi hari-hari terakhir di Purwakarta bersama orang-orang hebat sukses mengubah hati yang bandel ini. Disamping Pak Anies, ada Abah Iwan dan Pak Imang. Dua orang yang berpikiran luas dan memiliki sudut pandang menarik.

Pak Imang menegurku yang berniat membawa kamera slr kesayangan lengkap dengan lensa-lensa. “Ingat, kita datang kesana bukan sebagai fotografer, tapi sebagai guru. Datanglah dengan telanjang, tinggalkan semua profesimu sebelumnya disini dan terjun bebaslah bersama anak-anak. Jangan sampai terlalu mengkhawatirkan barang sampai teralihkan dari peranmu yang sebenarnya.” Upss, tau aja beliau kalau aku memang masih egois, membawa setumpuk hobi dan harapan pribadi.

Sudah sampaikah aku di titik totalitas, atau titik nihil dimana aku siap tanpa memikirkan apa-apa lagi? Seperti kata Abah Iwan, saat mendaki gunung dia berpikir, “ada sekian banyak bintang di langit, kenapa terpukau dengan kedinginanmu?” Kadang aku buta. Tidak ada pantai biru di Kapuas Hulu memang, tapi aku lupa bahwa disana tersedia senyum anak-anak tanpa batas, pabrik oksigen dunia, hutan rimba dan pegunungan yang menantang, durian dan berbagai kekayaan alam yang berlimpah, serta banyak hal menarik lainnya.

Ketika aku mohon bijaksana,
Kau beri aku masalah untuk diselesaikan

Ketika aku mohon keberanian,
Kau beri aku bahaya untuk aku atasi

Ketika aku mohon cinta kasih,
Kau beri aku orang-orang bermasalah untuk kutolong

Ketika aku mohon kebahagiaan,
Kau beri aku orang-orang yang tersenyum tulus saat penderitaan menerpa mereka

Tanpa disadari, kita acap diberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Salah satu topik yang bikin jleb adalah waktu Abah berkata, “Respek pada TUJUAN dan takdir Tuhan, bukan pada keinginan-keinginanmu.” Menghormati posisi dan peran, ikhlas menjalani, lalu rendah hatilah untuk melepaskan.

“Tidak ada idealis yang setengah-setengah. Idealis atau tidak. Pilihlah, lalu kau akan mati. Negeri ini hancur, tapi jangan sampai jadi bagian yang ikut ambil peran dalam kehancuran itu.”

Sepanjang sesi Abah kerap menyanyikan lagu-lagunya. Skill gitar dan menyanyinya bikin merinding! Terasa sekali kalau beliau bernyanyi dalam hati. Di samping burung camar, ternyata Abah yang menciptakan lagu Mentari, salah satu lagu kampus saya. *kemana aja gue~*.

Hari ini menjadi hari terakhir kami di camp, dan besok 74 PM VI akan diberangkatkan menuju titik masing-masing. Jalan di depan memang panjang, tapi yang penting adalah menjalani dengan hati dan memaknai setiap langkah. DO IT WITH YOUR HEART! Borneo I’m coming!! 😀

Advertisements