Adieu

by mylittlecanvas

Si perempuan memandang lelaki di depannya dengan kesal. Entah sudah berapa ratus percakapan yang mereka lewati, dan topik menyebalkan itu selalu muncul.

Dasar aneh, memang tidak ada topik lain ya? Sungut si perempuan.

Si lelaki seolah tak peduli dengan keberatan perempuan itu. Loh, kan memang kenyataan, apa salahnya dibahas? Bener ga memang seperti itu hayo?

Benar, tapi aku tidak suka sudut pandangmu membahasnya, membuat hal itu terlihat semakin buruk. 

Eits pundung, males banget sama yang gampang pundung. Pantesan tempatmu ga maju-maju.

Si perempuan semakin panas. Apa hubungannya!? Bentaknya tajam. Ditatapnya si lelaki dengan marah.

Dulu dia menyukai lelaki ini, atau dia pikir dia menyukainya. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta, dia hanya ingin melihat bata yang baik dari si lelaki, lupa kalau tidak ada tembok yang utuh sempurna. Sedikit retakan kecil akhirnya menyita perhatiannya, retakan yang membawa menuju retakan yang lain, patahan yang lain, dan oh bahkan ada lubang besar di atas sana. Kenapa selama ini aku tidak pernah melihatnya? Pikirnya sinis.

Terserah kamu deh! Males juga sih tiap ketemu bahas ginian.

Ya sudah, ayo ganti topik.

Pembicaraan berlanjut. Tapi berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam ini alur perdebatan terasa hambar dan tidak menyenangkan. Bahkan mereka akhirnya mempeributkan hal yang tidak esensial, bertahan dengan pendapat masing-masing walau itu tidak logis. Mungkin kekecewaan atas runtuhnya ekspetasi, citra yang selama ini dibangun di kepalanya membuat perasaan si perempuan berbalik drastis.

Senyum itu tak lagi membuatnya merasa nyaman, mata itu tak lagi membuat hatinya berdesir. Campuran aura musim semi dan gugur yang biasa mengikuti si lelaki mendadak sirna. Baiklah, pikir si perempuan menyerah. Mungkin ini saatnya aku membelokkan arah, walau jalan yang ini pun baru mulai kutapaki. Toh, ada banyak jalan menuju benang merah itu, bukan?

LV

Advertisements