Tengah-tengah Saja Deh daripada Kiri-Kanan Terus Nabrak

by mylittlecanvas

Di tengah dinginnya malam dan regukan secangkir kopi, seorang teman menyarankan untuk membaca beberapa artikel di situs favoritnya. “Buka deh lor, ada rame dibahas tentang PKS dan sosialis.

Saya membukanya, menemukan tulisan Ragil Nugroho tentang PKS dan Lenin, diikuti bantahan Ted Sprague yang merasa kekiriannya dinodai, disambut oleh Martin Suryajana yang justru mengkritik seberapa jauh pemahaman Ted terhadap Marxis yang sebenarnya.

Saya bukan ahli paham ini. Buat saya Karl Marx memang revolusioner pada jamannya, walau kritiknya atas agama menjadi bumerang bagi ajarannya, tuduhan komunis-itu-ateis yang tidak berdasar. Tapi saya tidak sepenuhnya sepakat dengan kesamarataan dalam hal apapun. Bagaimana kita bisa mengerdilkan semangat juang orang yang memang berbeda-beda?

Balik ke artikel di atas. Dari yang saya tangkap, Ragil menulis betapa cara yang ditempuh PKS sebenarnya mirip dengan apa yang diajarkan Lenin, mulai dari sel-sel organisasi yang saling mengunci dengan rapi, strategi bekerja sama dengan kekuatan lain, sampai koran partai yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Kenapa PKS bisa sementara kaum kiri justru masih asyik dengan aksi dan segala atribut kekiriannya yang ekslusif? Sementara Ted mengatakan kalau pendapat Ragil hanyalah tulisan vulgar setengah sesat. “Hanya ada satu jalan bagi gerakan Kiri, kembali ke Lenin. Dan jalan ini tidak akan melalui PKS ataupun jalan manapun yang ditunjukkan oleh Ragil,” tegasnya di bagian bawah. Well, buat saya itu adalah sebuah pemikiran sempit yang tidak relevan. Bukankah seharusnya yang terpenting adalah tujuan pergerakan mereka? Dan kalau cara mereka saat ini tidak berhasil, apa salahnya mencoba cara lain?

Martin panjang lebar membahas keduanya, dan dengan tandas menulis di akhir artikel; “Satu abadinilah jarak antara Ted dan Ragil. Jarak antara keduanya adalah seperti jarak antara khayalan dan kenyataan, antara idealisme dan realisme materialis, antara Bogdanov dan Lenin, antara para aktivis facebook Kiri dan aktivis PKS.”

Tulisan-tulisan yang menarik, pikir saya. Menggambarkan betapa suatu aliran bisa sedemikian bertentangan tergantung bagaimana cara kita memandangnya.

Lalu saya terbayang perdebatan dengan beberapa orang teman, yang mempertanyakan tentang program yang akan saya ikuti. Program tersebut memang diinisiasi oleh seorang tokoh, dan disponsori oleh beberapa perusahaan yang menurut mereka bermasalah. Pencitraan doang, serbu mereka. Kalau berbayar namanya bukan pengabdian dong? Memang yang kamu ajar selama ini bukan Indonesia? Dan seabrek protes lainnya.

Padahal, justru mereka yang melayangkan protes adalah orang-orang yang katanya selama ini bergerak untuk kemanusiaan, menjunjung kesetaraan, dan pejuang kaum kecil. Tapi kenapa, gerakan bertujuan sama dikritik hanya karena yang menjalankannya adalah kaum kapitalis yang mereka tentang? Bagi saya sih yang terpenting adalah pengaruh dari sebuah gerakan. Dan ketika saya bisa menggunakan jalan ini untuk mencapai hasil yang lebih jauh, mengapa tidak saya berdayakan saja? Terlalu sempit untuk menutup diri, layaknya jalan mereka adalah sebuah dogma yang harus diikuti.

Memang tidak adil untuk membandingkan apa yang sudah dihasilkan, mengingat yang satu memiliki sumber dana besar sementara yang lain kekeuh dengan cara gerilyanya. Tapi tidak adil juga untuk mempertanyakan niat seseorang memperjuangkan kemanusiaan berdasarkan darimana dana mereka berasal.

Orang-orang yang mengaku Kiri, sebaliknya, terus-menerus gagal memahami bahwa Marxisme bukanlah lip service, Marxisme bukanlah kumpulan kutipan, bahwa Marxisme adalah sains yang bertumpu pada metode analisis dan filsafat yang implisit, yang seringkali tidak langsung terlihat pada level kutipan-kutipan, yang mengandaikan pembelajaran akan sejarah pemikiran dan realitas objektif. – Martin S

Advertisements