Selintas Renungan di Jalanan

by mylittlecanvas

Tatapan orang-orang itu tidak berubah. Campuran antara sinis dan kasihan setiap melihat anak-anak yang berjuang menyambung hidup di perempatan. Tanggung jawab pemerintah, kata mereka. Atau orang tuanya saja yang malas.

Orang-orang itu kerap memprotes, mencela, sesekali memberi dari kendaraan mewah mereka yang lalu-lalang menghempaskan debu ke wajah-wajah polos. Tapi berapa banyak yang peduli agar anak-anak itu mendapat hak yang setara dengan anak-anak seusia mereka? Atau minimal perlakuan yang sama?

Diantara keceriaan dan canda tawa kami di tengah-tengah trotoar, saya kerap memperhatikan reaksi orang-orang. Tidak nyaman, seolah mengatakan bahwa kami hanya memenuhi jalan mengotori kota mereka. Lalu bila saya yang bukan objek saja merasa begitu, bagaimana dengan mental anak-anak yang setiap hari menerima tatapan menyebalkan itu? Lacan menarik konsep ini ke tahap gaze, sebuah istilah psikoanalisis untuk mendeskripsikan perasaan cemas yang datang dengan kesadaran bahwa seseorang dapat dilihat. Efek psikologis dimana subjek kehilangan sebagian otonominya setelah menyadari bahwa dia adalah objek terlihat (visible object).

Masalahnya, gaze seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman yang mengintimidasi bagi beberapa kelompok tertentu. Mereka yang dianggap “aneh” atau minoritas dalam sistem masyarakat kemudian menjadi korban. Banyak yang cenderung melihat gaze sebagai “an act of mastery”― tindakan penguasaan atau kontrol.

Bisa jadi manusia memang tidak pernah bebas, seperti pendapat Foucault yang menolak teori para filsuf Pencerahan bahwa manusia adalah subjek otonom, sebaliknya ia berkata bahwa manusia modern sebagai subjek ataupun objek sebenarnya tidak lebih dari individu yang lahir dan diciptakan oleh multiplisitas kekuasaan melalui disiplin, normalisasi dan regulasi, pengakuan dan penguasaan diri.

Namun, siapakah yang berhak menentukan baik-buruk, normal-tidak normal, dan berbagai batasan lainnya? Belum tentu si kaya lebih baik dari si miskin, bankir lebih baik dari pengamen, atau pejabat lebih baik dari para aktivis buruh. Siapa saya, kalau saya berani merasa lebih baik dari anak-anak itu, padahal yang saya punya hanya kesempatan lebih baik layaknya undian yang didapat oleh mereka yang beruntung? Karenanya yang saat ini dapat saya lakukan adalah bercengkrama dengan mereka, mendengarkan cerita mereka, dan yang terpenting membuat mereka merasa berarti siapapun dan dimana pun mereka berada saat ini.

aaa

Advertisements