Goddamnit!

by mylittlecanvas

Harus diakui mereka memang cerdik. Benar-benar cerdik, bila tidak disebut licik.

Timing yang pas, menunggu para relawan bubar, hanya menyisakan segelintir orang yang tidak tahu apa-apa. Senyum seorang teman lama seolah mengajak untuk membicarakan hal-hal ringan yang santai, seperti yang acap kali dilakukan sampai malam seusai mengajar. Aku mengiyakan, dengan bodohnya tidak merasakan gelagat apapun.

Pembicaraan dimulai dengan tenang, namun dengan sekejap berubah menjadi badai. Tuduhan bertubi-tubi dilayangkan, mencari kesalahan lain saat yang sebelumnya dimentahkan. Aku shock, kaget mendengar kata-kata kedua orang itu. Sudah tidak benar, nadanya amat ketus pula. Darahku mulai mendidih. Tangan terkepal keras, mencoba menyalurkan emosi yang memuncak.

Anda kalau berani janji harus bisa konsisten! Tidak perlu ditagih-tagih dulu deh. Kalau ga disms, ga dikasih!?” Duileh mbak, saya juga pernah di posisi itu. Menagih-nagih bantuan orang agar dapat melanjutkan sekolah. Ini baru sekali sms, saya sama keluarga malah pernah bolak-balik Jakarta demi melunasi tunggakan yang menumpuk. Lalu bila orang yang ingin membantu belum bisa memberi, apakah lantas saya marahi bentak-bentak? Tentu tidak, karena saya yang butuh mereka, bukan mereka yang butuh saya. Kecuali memang kalian sebenarnya tidak butuh, itu lain perkara.

Janji mau biayain sampai SMA, ini baru SD saja sudah tidak becus!!” Intonasi dan volumenya layak untuk ditulis dengan capslock, tapi malas nanti malah terlihat penting. OMG, apa mereka tidak pernah mendengar yang namanya ‘cita-cita‘? Boleh saja bermimpi sejauh mungkin, tapi kalau ternyata tidak bisa bagaimana? Toh kami tidaklah sekaya Donald Trump atau Bakrie yang bergelimang harta, hanya sekumpulan orang yang berusaha membantu sebisanya sesuai kemampuan. Itupun syukurlah sampai saat ini kami masih mampu, walau tidak selalu tepat waktu.

Cengkramanku semakin kuat. Sayang sekali baru saja kupotong pendek kukuku. Alangkah inginnya mengucurkan darah, kalau perlu darah sendiri kalau tidak bisa darah orang itu. Aih, bahkan tembok di belakang sana tampak menggoda sekali untuk dipukuli. Rasa migrain mulai datang, petanda emosi ini nyaris tak tertahankan. Dan sial! Air mata mulai menggenang tak terkendali. Aku benci terlihat lemah, apalagi di depan orang-orang seperti mereka. Kalau saja tidak ingat posisi, nasehat si bapak tua, anak-anak kecil yang melihat di ujung sana, atau masih menghargai teman lama di samping, pasti aku sudah melompat memukulnya sambil meneriakkan sumpah serapah.

Untunglah pembicaraan berakhir tepat sebelum limit sabar habis. Aku bergegas pergi, diikuti dua kakak yang menemani dengan pandangan bertanya-tanya. Jangankan mereka, aku pun masih linglung mencerna apa yang baru saja terjadi.

Tulisan ini sekedar menumpahkan emosi seperti biasa, bukan ingin menganggap mereka penting. Apalagi siapa sih dia? Kenal saja tidak, melihat pembuktian dirinya apalagi. Terkadang sampai bingung, sebenarnya siapa yang butuh perawatan? Anak-anak atau kakak-kakaknya?

goya_saturn

Lukisan Goya yang langsung terbayang-bayang di kepala, Saturn Devouring His Son

Advertisements