Mak

by mylittlecanvas

Kami semua memanggilnya mak.

Entah siapa nama aslinya, aku pun tak pernah menanyakan. Mak adalah seorang pemilik warung makan di Pasar Ciroyom. Setiap hari banyak anak jalanan dan kuli bangunan yang makan di warungnya. Bukan karena tempat, atau jenis makanan yang dijual, tapi karena harga yang nyaris tidak masuk akal. Bayangkan, sepiring penuh nasi beserta sayur dan sepotong tahu hanya dihargai 3.000 rupiah! Itupun kalau dibayar, karena tak jarang anak-anak berhutang kalau makan, yang entah dibayar atau tidak.

Mak sangat baik, setiap kami datang dia selalu menanyakan apakah kami sudah makan atau belum, bertanya kabar, hampir selalu disertai doa agar keinginan kami tercapai. Beliau selalu tersenyum, kerut matanya menambah binar rautnya. Manis sekali.

Minggu lalu mak jatuh sakit. Lambungnya bocor kata Yadi, anak jalanan yang diangkat jadi anak oleh mak. Rupanya beliau jarang memperhatikan kesehatannya sendiri. Mak susah makan, yang mengakibatkan sakitnya tambah parah. Setelah dirawat di rumah sakit, mak untuk sementara dirawat di rumah anaknya. Tadi sore aku dan beberapa kakak pergi mengunjungi mak, dan rasanya aku semakin bisa melihat betapa emasnya hati yang ada dalam tubuh mungil itu.

Saat kami disana pembicaraan nyaris selalu didominasi oleh anak-anak. Mak yang khawatir bagaimana anak-anak mendapat makanan murah, tentang rumah yang tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, dan seterusnya. Aih,, bahkan di saat sakit yang diingat emak pun hanya anak-anak :’)

Yang lebih luar biasa, berbeda dengan apa yang aku bayangkan selama ini, ternyata anak-anak mak cukup mapan. Rumah mereka nyaman, tidak terlalu besar namun terawat rapi. Berbeda jauh dengan kondisi warung mak. Anak-anaknya cerita kalau mereka sering mengajak mak pindah ke tempat mereka, namun beliau selalu menolak. Aku terharu. Siapa sih yang rela memilih tempat kumuh beserta anak-anak tak terawat dibandingkan tempat tidur yang nyaman? Yang hari gini rela untuk berkecimpung di dunia yang keras seutuhnya saat dia memiliki pilihan yang enak? Lupakan wacana tentang berbagi, memberi, mimpi, solidaritas, kemanusiaan dan sebangsanya, karena yang ada di hadapanku adalah seseorang yang tidak pernah membicarakan hal-hal tersebut, namun mencerminkannya lewat seluruh hidupnya.

Aku baru tahu, bahkan Mang Agus berjualan disitu atas bantuan mak, dan menumpang di lahan mak. Beliau memang suka membantu orang-orang, tak peduli bagaimana watak orang itu.

Ibu mah suka nolong orang ga pakai mikir, untung-untung selama ini yang ditolongnya ga ada yang aneh-aneh. Saudara-saudara ibu suka marahin kami minta pindahin ibu ke tempat kami. Tapi ya gimana ibunya gamau, katanya selalu teringat anak-anak kalau jauh dari ciroyom.

Di hari Ibu ini aku bertemu dengan ‘ibu’ yang sejati. Seperti kata Aristoteles, “those who educate children well are more to be honored than they who produce them; for these only gave them life, those the art of living well.

Ah Mak. Seorang malaikat lembut yang diturunkan Tuhan di tengah-tengah semrawut kehidupan pasar. Semoga cepat sembuh mak :’)

Advertisements