Si Domba

by mylittlecanvas

Awalnya yang diinginkan si domba adalah sebuah padang rumput sederhana yang mudah ditemui dimana saja. Berjalanlah dia, dan pada suatu waktu dia menemukan padang rumput yang dicarinya, cukup luas untuk membuatnya berhenti sejenak. Hari demi hari dilaluinya dengan tenang, karena setidaknya dia merasa berada pada tempat yang tepat.

Pada mulanya padang rumput itu sesederhana yang dibayangkan; para domba berkerumun dan bercengkrama bersama, anak-anak domba yang riang berlarian mengelilingi padang tak berpagar itu, dan sesekali beberapa burung lewat menjatuhkan biji-bijian yang mereka bawa. Tidak banyak rumput yang tumbuh disana, namun mereka semua berbagi rasa dengan setara, tidak peduli apakah domba-domba itu berbulu hitam atau putih.

Suatu ketika, muncul seorang pengembara yang membawa banyak perbekalan di gerobaknya. Melihat padang rumput yang sedikit kering itu, dia mengambil bibit rumput dan menyebarnya di salah satu petak padang. Si pengembara berpikir bahwa tidak baik kalau bibit rumput itu rusak terinjak-injak domba sebelum dia tumbuh, maka dibangunnya pagar kayu mengelilingi petak yang dia tanam.

Para anak domba mengendus-endus bebauan rumput segar dari sela-sela pagar. Mereka mengembik pelan, memprotes mengapa mereka tidak bisa mendapatkan rumput itu, tanpa tahu kalau para domba besar juga tidak dapat membuka pagar kayu yang mengelilinginya.

Tak lama kemudian, bau rumput yang harum mengundang sapi, kerbau, dan biri-biri untuk turut merapat. Mereka mengancam para domba untuk membuka pagar dan membagi rerumputan yang terlihat lezat itu. Sesekali didorongnya anak-anak domba yang malang untuk menekan para domba.

Beberapa domba memilih untuk menerjang dan menegaskan siapa pemilik padang itu, beberapa domba memilih untuk diam, dan bahkan ada domba-domba yang menjauh.

Si domba memperhatikan sekelilingnya dengan sedih. Bukan ini yang dibayangkannya ketika dia pertama kali datang. Tumpukan rumput itu memang menggiurkan, namun sama sekali tidak ada artinya dibanding kegembiraan mereka dulu. Dan setengah hatinya sudah memulai untuk meneruskan perjalanan, mencari padang rumput sederhana yang diinginkannya.

Advertisements