Catatan Perjalanan Mahameru part #2

by mylittlecanvas

Selasa, 31 Juli 2012

Nasi tuna dan doa memulai summit attack kami. Tepat jam setengah 12 kami memulai langkah di tengah beku malam yang menggigit. Kami hanya membawa sebuah carrier berisi 3 botol air,obat-obatan, serta kamera. Barang yang tidak diperlukan sebaiknya ditinggal semua mengingat jalur puncak yang terjal luar biasa. Dari Kalimati kami berjalan menuju Arcopodo melewati deretan hutan pinus dengan jalur yang terus menanjak. Pasir dan bebatuan mengepulkan debu yang cukup banyak, disarankan JANGAN LUPA MEMBAWA SLAYER/SYAL bila tidak ingin susah bernafas.

1,5 jam berselang kami sampai di Arcopodo, dan 1 jam kemudian kami sampai di vegetasi terakhir. Dulu ada Cemoro Tunggal yang dijadikan patokan, namun sekarang pohon itu sudah tumbang sehingga seperti anjuran porter, kami mengikatkan ponco berwarna cerah sebagai penanda saat turun.

Jam 2.00 kami mulai melangkah di jalur yang sepenuhnya terdiri dari batu dan pasir. Tidak ada pohon atau pegangan apapun, semua bergantung pada langkah kaki semata. Udara sangat dingin dan angin kencang berhembus, namun langit sangat cerah sampai cahaya bulan terlihat begitu terang. Rangkaian bintang pun tampak memenuhi angkasa. Aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, dimana semua terasa begitu damai dan tentram. Hanya ada bunyi nafas, tapak kaki, dan kesunyian yang menyelimuti.

Disini kami mulai menemui kesulitan. Dari sesak nafas, dada sakit, sampai kaki terkilir mendera teman-temanku. Perjalanan kami menjadi sangat lambat, selama 3 jam kami hanya naik 200 dari 700 meter vertikal yang harus kami tempuh.Aku cukup kesal saat kami gagal mencapai puncak sebelum matahari terbit. Kami hanya bisa menikmati sebagian sunrise, sambil membayangkan betapa indahnya bila kami dapat melihat horizon oranye itu seluas mata memandang tanpa terhalang apapun.

Cuaca mulai menghangat begitu matahari muncul. Kami tetap melanjutkan perjalan secepat yang kami bisa. Target saat ini adalah kami bisa muncak sebelum batas waktu bahaya. Akhirnya dua orang dari kami memutuskan tidak dapat melanjutkan perjalanan, sedangkan empat sisanya tetap melanjutkan pendakian. Semakin ke atas trek semakin terjal, ada yang mencapai kemiringan 50-55 derajat. Naik tiga langkah, turun dua langkah. Di beberapa tempat aku bahkan merasa seperti sedang menaiki treadmill, langkah yang dilakukan sia-sia belaka karena kaki kami terus melongsorkan pasir ke bawah dan tidak maju sama sekali.

Di beberapa titik aku sempat berpikir untuk berhenti saja, tetapi adakalanya tekad mengalahkan keinginan fisik, dan buatku mungkin ini adalah salah satunya. Putus asa dengan injakan yang labil, tangan turut dikaryakan untuk mendorong. Sedikit-demi sedikit kami semakin mendekati puncak. Benar memang kata-kata dalam quotes 5cm yang aku suka;

… yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh,

tangan yang akan berbuat lebih banyak,

mata yang akan melihat lebih lama,

leher yang akan lebih sering mendongak, tekad yang setebal baja,

hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang selalu berdoa..

Setelah berhasil melewati sisi paling terjal, mental kami tetap diuji. Justru kemiringan yang mulai melandai membuat kami tidak dapat memperkirakan jarak tempuh. Di balik batu besar ada batu lainnya, di depan tumpukan kerikil masih ada tumpukan lainnya. Perjalanan seolah tak ada habisnya. Di lain sisi, oksigen semakin terasa tipis, dada terasa terhimpit dan sesak.  Di samping rombongan bule yang sudah duluan ke puncak dari kapan tau, hanya ada kami dan satu rombongan lain yang berasal dari Mapasadha Jogjakarta. Tiga orang dari rombongan mereka mendaki bersama kami, dan kami saling menyemangati satu sama lain untuk tetap bersemangat. Ajaib memang, betapa gunung bisa mendekatkan manusia. Orang asing terasa seperti sahabat di gunung, tak peduli bila sebelum dan sesudahnya kami tidak akan bertemu lagi.

Jalur semakin melandai, batu-batu semakin besar dan kokoh. Selangkah lagi, dua langkah..

Dan…

.

MAHAMERU!!!!!!!!!!

.

Aku meneteskan sedikit air mata haru menatap pelataran luas itu. 360 derajat cakrawala biru tampak begitu menakjubkan! Samudra awan, puncak Arjuno-Welirang, kepulan Wedus Gembel, birunya langit, serentak menyerbu mataku.

Akhir pendakian, puncak pencapaian, dan jawaban doa serta harapan. Titik tertinggi di tanah Jawa!  Melawan batas diri! Terkabul sudah keinginan untuk merayakan kelulusan di Mahameru, saat ini semuanya terasa sangat nikmat dan memuaskan. Fisikku masih terkuras seolah tak bertenaga, namun batinku terasa sangat penuh. Kuucapkan syukur kepada Tuhan, tak lupa segera kukeluarkan kamera untuk mengabadikan momen berharga ini. Sekarang pukul 9 tepat, dan hanya tinggal setengah jam saja waktu aman kami disini.

bareng anak-anak Jogja yang kami temui di tengah jalan

Sampai puncak air kami habis. Di tengah deraan haus beruntung teman-teman baru kami menawarkan air minum. Lanjut dengan memberikan nutrisari bercampur nata de coco. Wuihh!!! Makasih loh mas, mbak, semoga nemu blog ini soalnya bingung foto-fotonya mau ditag dimana, hehe.

Selesai jeprat-jepret sebentar dan menikmati pemandangan, dengan berat hati (serta tubuh) kami beranjak meninggalkan puncak. Suhu di puncak mencapai 2 derajat celcius, tapi tidak terlalu terasa karena panas matahari yang menyengat.

Berbeda dengan waktu naik, saat turun begitu mengasyikan! Beneran serasa seperti lagi sand-skating! Tinggal jalan maju menggelosor cepat. Tapi hati-hati, kalau lalai bisa-bisa nyasar ke blank 75 dan blank 100, jurang di kiri-kanan jalur puncak. Beberapa temanku yang takut ber sand-skating akhirnya merosot sambil duduk ke bawah, yang berujung pada celana bolong. Makanya, lebih baik memberanikan diri, ga bakal jatoh kok 😉

Kurang-lebih 3 jam waktu yang kami butuhkan untuk menuruni lereng, Arcopodo, sampai Kalimati. Di Kalimati kami beristirahat cukup lama, mengumpulkan kembali nyawa dan tenaga. Aku bersama beberapa orang dipandu oleh anak Jogja mencari air ke Sumbermani. Pantesan kemarin cowok-cowok ga berhasil menemukan air, karena sumbernya ternyata nun jauh disana, turun ke Sumbermani lalu menelusuri jalan sampai terdengar suara air. Tempatnya di lereng berkabut-kabut gimana gitu seperti aura film-film silat jaman dulu. Airnya pol! Dingin dan seger abis! Worth it buat jauh-jauh kesini!

Jam 6 sore kami berangkat ke Ranu Kumbolo, dengan pertimbangan tidak mungkin bila perjalanan Kalimati-Ranupani dihabiskan besok, dan tidak mungkin pula menambah hari karena kurangnya perbekalan.

Jalan malam hari cukup menyenangkan. Cuacanya sejuk, dan hutan yang gelap memberikan kesan misterius. Yang perlu waspada yaitu ketika melewati oro-oro ombo, karena setapak di tengah ilalang tidak terlihat di tengah kabut tebal. Tak terasa kami sudah sampai di Ranu Kumbolo hanya dalam waktu 2,5 jam. Kami kembali menginap di pondok, yang dengan baiknya tempat kami sudah dipisahkan oleh rombongan Jogja tadi. Selesai makan malam mi instan ala kadarnya (plus drama air, haha) kami pun bergelung dalam sleeping bag dan langsung tepar kecapaian.

Rabu, 1 Agustus 2012

Matahari sudah tinggi ketika kami bangun. Untuk perjalanan pulang, kami memilih rute yang berbeda, Ayak-Ayakan. Jalur ini tidak memutar sehingga lebih pendek, namun kita harus melewati tanjangan yang panjang dan cukup terjal melintasi bukit, baru turun ke arah Ranupani.

ada awan tumpah! Cool!

Pemandangan dari puncak Ayak-Ayak

Perjalanan cukup lama akibat fisik yang lelah, jadilah waktu yang kami butuhkan melewati ayak-ayak sama lamanya dengan melewati jalur Watu Rajeng. Menjelang Magrib barulah kami sampai di Ranupani, yang langsung dilanjutkan naik truk ke Tumpang.

Selamat tinggal Mahameru! Empat hari penuh pengalaman yang takkan terlupakan. Belajar menerima, belajar mengalah, belajar mengalahkan, belajar terus berjuang, dan belajar untuk percaya mimpi…

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa…

Advertisements