Catatan Perjalanan Mahameru part #1

by mylittlecanvas

Bermula dari impian mencapai puncak tertinggi di Pulau Jawa, saya dan geng Merapi kemarin akhirnya konkrit membeli tiket pp Bandung-Surabaya (seperti biasa, tiket ekonomi harus dipesan jauh hari agar tidak kehabisan).

Jumat, 27 Juli 2012

Hari keberangkatan. Kami naik kereta Pasundan yang berangkat jam 6 pagi dari Stasiun Kiaracondong. Perjalanan selama 17 jam cukup membuat lelah, namun kami sangat bersemangat dan tak sabar ingin cepat sampai di tujuan!

Akhirnya jam 23.30 kami sampai juga di stasiun Gubeng, Surabaya. Ditemani seorang penduduk lokal yang kami temui di kereta, kami dibantu mencari angkot menuju Terminal Purabaya. Dari sana kami berpindah ke bus menuju Malang.

  • Tiket kereta Pasundan Bandung-Surabaya : Rp 38.000,-
  • Angkot Gubeng-Purabaya : Rp 3.000,-
  • Bus Surabaya-Malang : Rp 10.000,-

Sabtu, 28 Juli 2012

Jam 01.15 kami sampai di Terminal Arjosari, Malang. Semua sangat on-time diluar prediksi (perkiraan kami semua akan ngaret sehingga kami pas sampai di Malang pagi). Alhasil kami ngemper tidur-tidur ayam di terminal menunggu subuh menjelang.

Jam 4 kami naik angkot menuju Tumpang, yang memakan waktu perjalanan 2 jam. Sesampainya di Tumpang kami lalu mencari angkutan menuju Ranupani. Harga sewa jeep menuju Ranupani minimal Rp 450.000,- (+/-untuk 15 orang). Dan berhubung kami hanya ber-6, kami memutuskan untuk naik engkel (truk sapi) yang tarifnya tidak dibagi rata per jumlah orang.

Kami baru tahu dari supir engkel bahwa ternyata kami harus membawa surat kesehatan ke pos pendakian. Kami pun mampir sebentar di klinik untuk diperiksa berat dan tensi darah. Tambahan : jangan lupa membawa fotocopy ktp dan materai 6000 untuk pendaftaran.

  • Angkot Malang-Tumpang : Rp 7.000,-
  • Medical check up : Rp 5.500,-
  • Engkel Tumpang-Ranupani : Rp 30.000,-/orang (perjalanan +/- 1,5 jam)
  • Tiket Pendaftaran Rinjani : Rp 6.750,- (mahasiswa) /7500,- (umum), plus biaya 5000/kamera bagi yang membawa alat dokumentasi

Perjalanan dari Tumpang menuju Ranupani lumayan menarik, ada spot keren di pertengahan jalan yang tampak seperti middle earth. Serasa LOTR banget deh! 🙂 Dan ternyata ada jalur tembus ke pasir berbisiknya Bromo lewat tempat ini.

Kami menghabiskan hari dengan berjalan-jalan ke danau Ranupani dan tidur-tidur ayam sampai malam menjelang. Suhu disini cukup dingin, mencapai 12 derajat pada malam hari. Airnya apalagi, bahkan jam 1 siang air di bak mandi terasa lebih dingin dari air kulkas. Kami menginap di di rumah Pak Tumari, salah satu warga. Disini juga disediakan makanan matang untuk perbekalan, saran saya jangan lupa minta dibikinkan sambal, rasanya sangat enak sekaligus bisa menghangatkan badan. Pokoknya mantap!

Minggu, 29 Juli 2012

Pukul 5 dini hari kami bangun, packing, sarapan, dan pemanasan. Setelah perdebatan barang-apa-dibawa-siapa dan persiapan yang lambat, akhirnya jam setengah 9 kami memulai perjalanan ke Ranu Kumbolo!

Tim kali ini : Nyoman-Iklas-Philip-Keket-Laura-Wendy

Awal pendakian cukup mudah, jalanan mendatar melewati ladang, lalu naik sedikit menuju perbukitan. Trek sangat jelas, bahkan ada jalan batu sampai sekitar 2 jam perjalanan. Beberapa orang newbie dalam kelompok kami awalnya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan udara tipis serta berat carrier, kami pun lumayan sering break sepanjang jalan.
Beberapa pos kami lewati, ada yang sudah hancur sampai tinggal atapnya di atas tanah. Di pertengahan jalan trek mulai naik-turun, di beberapa tempat tanjakan cukup terjal dan menguras tenaga.

Kurang lebih setelah 5 jam perjalanan kami melewati sebuah belokan, .. dan… muncullah cermin biru kehijauan itu! Ranu Kumbolo! Tampak begitu indah dan segar di tengah teriknya matahari yang menyengat. Kami pun seolah mendapat suntikan tenaga baru, mempercepat langkah menuju tempat camp di sisi seberang danau.

Ranu Kumbolo!

Sampai sana kami melihat sebuah pondok kayu yang cukup besar, sekitar 5×7 meter. Bagian dalam pondok hangat dan bersih. Kami pun memutuskan menginap di pondok daripada mendirikan tenda.

Selesai mengeluarkan barang-barang kami bersantai-santai di pinggir danau, ber photoshot ria, dan membuat api unggun. Berhubung ada 3 wisudawati dalam kelompok, kami membawa toga buat kostum foto, haha.

disini bulan sudah kelihatan dari jam 2 siang loh

Senin, 30 Juli 2012

Sama seperti kemarin, kami baru berangkat setelah jarum jam menunjuk ke angka 9. Perjuangan buat sarapan cukup berat, harus mencuci piring plus mengambil air dari danau yang hampir beku, tambahan lagi nasi yang gagal matang sempurna, hufftt.. Tapi mau ga mau harus makan banyak buat asupan energi. Dan yak! Berangkatt!!

Trek pertama adalah Tanjakan Cinta! Jalurnya cukup terjal dengan kemiringan sekitar 40-45 derajat. Katanya sih, kalau bisa naik tanpa berhenti dan ga lihat ke belakang, maka hubungan akan langgeng, yang masih ngegebet pun akan sukses. Begonya, aku gatau syarat pertama. Nggak lihat ke belakangnya sih berhasil, tapi berhentinya sepertinya tidak terhitung deh, sering banget! 😦

Tanjakan Cinta

Dari Tanjakan Cinta jalur berlanjut ke padang ilalang Oro-Oro Ombo. Jalan setapak tampak membelah sabana ini, yang dilanjutkan dengan hutan pinus Cemoro Kandang. Jalur di hutan cukup terlihat jelas, mungkin karena semakin banyak pendaki yang datang kesini.

Oro-oro Ombo

Selepas Cemoro Kandang, kami melintasi Jambangan. Disini mulai banyak edelweiss, si bunga abadi. Dan tak lama kemudian, sampailah kami di Kalimati! Padang pasir luas yang dihiasi rerumputan. Total waktu 4 jam kami habiskan dari Ranu Kumbolo sampai kemari.

Disini cukup banyak pendaki lain, kebanyakan bule Prancis, bahkan ada 2 orang nenek-nenek yang tampak bugar dalam rombongan mereka. Suasana lebih ramai dibanding di Ranu Kumbolo kemarin saat hanya ada kami sendirian disana. Sebenarnya pendakian hanya boleh dilakukan sampai disini, namun kami bertekad untuk mencapai puncak, meskipun segala resiko harus ditanggung sendiri.

Kalimati

Kami tidur sore untuk beristirahat menjelang summit attack. Rencana kami berangkat jam 11 malam untuk mengejar sunrise di puncak.

Advertisements