Pluralisme vs Relativisme

by mylittlecanvas

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menerima BM tentang himbauan untuk tidak menonton Soegija, sebuah film tentang orang Indonesia pertama yang dijadikan uskup, karena dianggap ingin menyebarkan pluralisme. Banyak yang menganggap pluralisme sesat akibat fatwa yang dikeluarkan oleh salah satu lembaga agama di negara ini.

Tetapi apakah sebenarnya pluralisme itu? Dan apakah benar pluralisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif?

Ini adalah tulisan yang saya publish di notes fb hampir setahun yang lalu, dan saya tergelitik untuk mengepost ulang karena masih banyak terjadi simpang-siur pembahasan mengenai pluralisme.
.

Pluralisme vs Relativisme

Postmodernisme adalah sebuah wacana yang dibangun oleh pluralitas ideologi, yang di dalamnya terdapat berbagai keyakinan dan kepercayaan hidup dalam ruang dan waktu yang sama. Hal ini muncul akibat penolakan terhadap totalitarianisme dan universalisme era modernisme.

Meskipun demikian, ada berbagai sikap dalam melihat pluralitas itu sendiri di dalam wacana postmodernisme, yang dapat dikelompokkan menjadi dua kecenderungan utama. Di satu pihak, kecenderungan yang melihat pluralitas di dalam kerangka penghargaan akan fragmentasi, pluralitas, dan heterogenitas, yang disebut pluralisme (pluralism) ; di pihak lain, ada kecenderungan yang melihat pluralitas secara radikal pada tingkat yang lebih individual, yang menekankan pada hak, kebebasan, dan kedaulatan individu, yang disebut relativisme (relativism).

Meskipun cenderung dilihat sebagai dua hal yang sama untuk menjelaskan fenomena yang sama (pluralitas), sesungguhnya terdapat perbedaan prinsipil yang sangat berbeda antara keduanya.

Pertama-tama, istilah pluralitas itu sendiri harus dibedakan dengan pluralisme. Pluralitas adalah kenyataan adanya kemajemukan (agama, suku, ras, bangsa, bahasa, budaya) di sebuah tempat, lokasi, atau daerah yang sama. Berbagai warna-warni keyakinan, kepercayaan, gaya hidup, dan ideologi hidup dalam ruang waktu yang sama.

Pluralisme adalah kecenderungan atau pandangan yang menghargai kemajemukan, serta penghormatan terhadap yang lain (the others) yang berbeda-beda, yang membuka diri terhadap keyakinan-keyakinan berbeda tersebut, serta yang melibatkan diri secara aktif di dalam sebuah proses dialog, debat, atau argumentasi di dalamnya, dalam rangka mencari persamaan-persamaan sambil tetap menghargai perbedaan yang ada (menurut saya, contohnya adalah : pendapat untuk menghargai bahwa setiap agama memiliki nilai kebenarannya masing-masing, bukan setiap agama memiliki nilai kebenaran yang sama).

Relativisme, sebaliknya, adalah sebuah pandangan bahwa nilai (value) dan kebenaran (truth) ditentukan oleh pandangan hidup dan kerangka berpikir setiap individu, yang di dalamnya semua hal (pandangan, nilai, keyakinan, kebenaran, makna) mengandung kebenaran relatif.  Persoalan benar/salah, baik/buruk, moral/amoral, semuanya bersifat relatif. Artinya, tidak ada yang benar secara absolut, demikian pula sebaliknya. Di dalam konteks agama, relativisme agama berarti, semua agama benar. Di dalam konteks ideologi politik, relativitas politik berarti semua ideologi politik adalah benar.

Dari pemaparan di atas tampak pergeseran makna yang beredar di masyarakat, baik disengaja maupun tidak. Namun lebih baik kita memahami benar-benar arti suatu kata atau makna sebuah paham sebelum memutuskan untuk menyukai atau membencinya.

(tulisan disadur dari buku Hipersemiotika : Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna karya pak Yasraf Amir Piliang, dengan beberapa tambahan dan pengurangan yang dirasa perlu)

Advertisements