Ajarilah Kami ini saling Mengasihi…

by mylittlecanvas

Abjection.

Yak, itulah yang aku rasakan saat ini. Di saat aku merasa bahwa aku sedang berada di ‘keluarga’ yang tepat, dimana aku merasa dicintai, sekaligus dapat berbagi cinta dengan anak-anak yang sangat menyenangkan, dan sore tadi aku mendapat pemberitahuan yang menyebalkan.

Kata-kata halus mengalir dari seorang kakak yang sudah lama berada disana, kalimat-kalimat yang diucapkan lembut, tetapi maknanya jelas : aku tidak boleh berada di lingkungan itu lagi.

Jleb! Aku merasa tertusuk dari belakang, tertolak dengan alasan yang aneh menurutku. Air mata mulai tergenang tanpa disadari, dan perlahan amarah serta kekecewaan merebak di hatiku.

Aku seakan ingin berteriak;
“Apa salahku!? Apa salah aku memiliki kepercayaan yang berbeda!? Apakah salah aku terlahir dengan menganut agama ini!? Aku hanya ingin mengajar anak-anak itu, menanti-nanti saat bertemu mereka, karena aku senang berada bersama mereka, dan ingin membagi sedikit dari kelimpahanku, tidak kurang dan tidak lebih. Toh aku sama sekali tidak bermaksud mengajarkan agamaku, atau ‘menyesatkan’ mereka dari agama mereka. Kalau ingin diceritakan, bahkan setiap selesai belajar aku acapkali menarik anak-anak ke mesjid, menyuruh mereka sholat magrib dan menunggu mereka di depan mesjid sampai mereka selesai menunaikan doa. Syukur-syukur mereka masih taat beribadah di tengah dunia yang mulai humanis ini. Lebih baik aku diusir dengan alasan yang lebih masuk akal, kurang sopan misalnya, kurang dewasa, atau tidak menjadi contoh yang baik. That’s okay! Tapi alasan kepercayaan? Big bulshitt!!”

Ingin rasanya aku berteriak, memaki, atau menghamburkan kekesalan. Tetapi aku hanya diam, berbalik sebelum air mata ini menetes, dan berjalan menjauh bersama dua temanku. Untunglah aku sudah berpamitan dengan anak-anak, sehingga mereka tidak merasa aneh dengan kepergianku yang tiba-tiba.

Sebenarnya ingin rasanya kupeluk Arul yang berdiri dekat kedua temanku, atau Miftah yang sedang autis bermain bola di pinggir, tetapi aku takut tangisku akan pecah di depan anak-anak, seperti yang terjadi sampai detik ini. Itu sesuatu yang memalukan bagiku, menangis di depan umum.

Maka secepatnya aku melangkahkan kaki meninggalkan kolong jembatan yang sudah memberiku cerita selama 3 bulan ini, dengan tawanya, candanya, dan air matanya. Seandainya aku ditolak sejak awal, pasti rasanya tidak akan sesakit ini, karena aku belum mengenal dan tidak peduli dengan mereka.

Tetapi saat ini aku marah karena aku telanjur jatuh cinta pada anak-anak itu. Dan rasanya sangat berat untuk tidak menemui mereka lagi, bercanda ria dan menikmati senyum mereka, beradu panco dengan Musa dan Heri, memperhatikan Tian yang gemar menggambar robot transformer, menjadi korban tongkah konyol Ari dan Arul yang suka iseng, serta beribu kisah lainnya.

Mungkin aku akan kesana diam-diam, semisal pada siang hari atau tengah malam, saat hanya ada tatapan lugu anak-anak yang menerima tanpa penilaian berlebih. Aku teringat perkataan pak Uztadz, yang menasehatiku bahwa janganlah ingin pindah ke benua seberang, karena hanya di Indonesia sajalah kita bisa menemui hal-hal seperti ini, sesuatu yang miris sekaligus mengikat hati kita. Tapi pak, kalau seperti ini rasanya dunia seberang yang teratur tampak lebih baik bukan? Setidaknya mungkin disana lebih banyak orang-orang liberal yang lebih mengutamakan kebaikan umat manusia.

Dan buat Aji yang penyayang, Arul yang konyol, Ari yang usil tapi dewasa, Adit yang pendiam namun baik hati, Nur yang centil, Musa yang lugu, Miftah yang lucu, Desy yang ceria, Ridwan si Justin Bieber, Heri yang tangguh, Bambang yang kekanakan, Raka, Jajang si penggoda wanita, Tian yang jago menggambar, dan Putri yang seperti cupid, aku hanya bisa menitip doa semoga kalian semua bisa menjadi manusia-manusia yang mandiri dan sukses suatu hari nanti. Kalian itu kuat. Kakak benar-benar sayang kalian semua dari lubuk hati yang paling dalam, tanpa ada maksud apapun.

Ajarilah kami ini saling mengasihi…
Ajarilah kami ini saling mengampuni…
Ajarilah kami ini kasih-Mu ya Tuhan…
Kasih-Mu kudus tiada batasnya…

 

Aku bakal kangen suara tawa kalian. Pasti

Advertisements