Racauan Konyol

by mylittlecanvas

Sepasang mata kecil itu menatap sekelilingnya dengan pandangan menerawang. Wajar, sekaleng lem di genggamannya sudah hampir kosong. Rupanya sudah cukup banyak gas beracun yang dihirupnya hari ini.

“Mana nasi? Aku belum kebagian.” Dengan memelas dia meminta ke kakak-kakak di sekelilingnya.

Kakak-kakak tamu itu tampak kebingungan. Memang nasi bento yang mereka bawa sudah habis dibagi untuk anak-anak. Seperti biasa, saat waktu belajar hanya sedikit batang hidung mereka yang kelihatan. Namun saat waktu makan tiba, wih jangan ditanya. Mendadak banyak yang muncul dari segenap penjuru.

“Mana kak? Aku mau.” Bocah itu mengulang permintaannya.

Aku menghampiri mereka.

“Kamu kan tadi ga belajar, ya sudah tidak bisa dapat nasi.”

Bocah itu merengek makin keras, tapi aku tidak mempedulikannya lagi. Tak lama kemudian Casper menghampiriku

“Kak, itu si Arik nangis. Mau nasi katanya.”

“Habis Casper, lagipula salah sendiri dia baru datang sekarang.” Casper pun berlalu. Aku memperhatikan, diam-diam anak itu punya rasa solider yang besar, seperti saat kemarin dia tidak jadi ikut ke Unisba untuk menemani Acung yang tidak diajak.

Beberapa menit kemudian, ada keributan kecil di samping masjid. Arik tampak kejang-kejang sambil sesengukan, beberapa kakak tamu tampak di sampingnya untuk menenangkan. Anak-anak juga turut mengerumuninya.

Matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan racauan yang membuat miris. Tangan dan kakinya menendang-nendang liar. “Kesurupan tuh,” kata beberapa anak. “Iya, kesurupan sangu!”

Entah si bocah sengaja atau tidak, tapi saat salah seorang kakak memberikan nasi yang seharusnya untuk orang lain, dia agak diam, memperhatikan nasi yang ditaruh di sampingnya.

Aku hanya memperhatikan dari kejauhan. Entah mengapa kali ini aku tidak merasa kasihan. Ah, bahkan aku merasa marah padanya. Mungkin ini kekesalan yang menumpuk sejak beberapa hari yang lalu. Mulai dari dia yang terus merokok di angkot menuju Unisba, tingkah liarnya yang menyulitkan di Taman Lansia kemarin, sampai sekarang dimana dia berlaku aneh menguji belas kasihan kami demi mendapatkan sekotak nasi. Aku merasa malu, seperti kami tidak pernah memberi mereka makan saja. Entah apa yang ada di pikiran kakak-kakak tamu melihat perilaku seperti itu.

Beberapa saat berselang Arik terlihat tenang. Dengan lahap dia memakan nasi kotak di sebelahnya. Tak sampai lima menit tandas sudah makanan di kotak itu. Aku dan beberapa kakak lain turun ke bawah membawa anak-anak untuk pulang.

Sepanjang perjalanan Arik mendekatiku. Dia terus bercerita, seolah ingin meminta maklum atas kelakuannya. Mungkin dia sadar kehadiranku di antara kakak-kakak baru saat dia meminta nasi tadi, dan mungkin dia sadar, tatapan dinginku menyiratkan aku mengetahui kalau kejadian tadi (mungkin) hanya akting belaka.

“Tadi aku lihat nenek aku kak.”
“Oya? Terus?”
“Nenek aku sebentar lagi 100 harian.”
“Terus tadi ada di atap?”
“Iya.”

Oh, hebat juga kalau itu benar, pikirku. Habis ketakutan melihat hantu bisa makan begitu lahap dan tenangnya. Arik terus bercerita. Agaknya dia merasa aman melihatku mau mendengar ceritanya. Aku memang mudah mengangguk dan mengiyakan saat orang bercerita, tapi saat kepalaku mengangguk, belum tentu hati dan pikiranku juga demikian. Semua kata dan informasi yang ada kuserap untuk kuolah dalam pikiran, dan saat aku melakukan suatu tindakan, barulah itu berarti aku sudah setuju atau tidak terhadap suatu hal.

Dan kali ini, maaf bocah kecil, aku belum bisa menerima tingkah lakumu. Bahkan dengan sinis aku sebenarnya ingin berkata, masa depanmu suram sekali nak kalau kau terus seperti ini. Seperti kata Pak Gamesh, sepertinya ada yang salah saat relawan dianggap seperti Sinterklas oleh anak-anak, yang datang untuk membagi-bagikan uang dan makanan kepada mereka. Hey! Bukan cuma itu tujuanku berada disini. Aku menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk kalian, aku ingin kalian lebih mandiri. Kemanjaan dan rengekan yang tidak pada tempatnya hanya membuatku sebal, sedikit jijik malah.

Hufftt,, sedang sarkas rupanya aku. Memang aku harus belajar banyak untuk lebih dewasa. Kekanakan sekali kalau tidak bisa meredam amarah dan kejengkelan, apalagi kepada mereka yang lebih muda dariku.

Tapi pengendalian diri itu sangat susah, sungguh.

Advertisements