Just Accept it

by mylittlecanvas

“Ada dua cara menghadapi sesuatu, menerima dan memahami. Memahami akan membuatmu capek, karena tidak akan ada akhirnya, sedangkan menerima membuatmu lebih bisa menghadapi segala sesuatu, karena memang seperti itulah semua yang ada di dunia ini. Tapi ya itu, apakah ego kita bisa cukup direndahkan untuk menerima?”

Aku terdiam, mencoba meresapi perkataan seorang teman di sampingku.

Jujur, menerima adalah salah satu kelemahanku. Dengan ego yang kuat, aku jarang mengalah dengan mudah kepada orang lain yang kuanggap tidak cocok dengan pendapatku. Perdebatan lama, bahkan berjam-jam sering terjadi saat aku bertemu dengan orang yang juga memaksakan pendapatnya. Rasa kesal terhadap keadaan yang buruk atau bertemu orang yang menyebalkan pun sering kurasakan.

Dan memang, ketika dipikir-pikir, aku kesal karena aku mencoba memahami apapun yang terjadi. Kenapa seniman akademisi harus dibelenggu berbagai aturan?  Kenapa si A terlalu pemalu berhadapan dengan orang asing? Kenapa si B tidak pernah berambisi untuk berkarya lebih baik? Tanpa aku sadari, aku berusaha untuk mengerti mereka, dan mengharapkan semuanya berubah sesuai apa yang aku inginkan. Mungkin lebih baik aku menerima saja tanpa protes, karena memang begitulah segalanya berjalan.

Angin malam yang berhembus di atap semakin menggigit.

Perbincangan kami berempat lari kesana kemari, berhenti di satu titik untuk berpindah ke titik lainnya. Aku sangat menikmatinya. Sudah jarang aku temui momen seperti ini, apalagi saat orang-orang di sekitarku semakin hedonis dan jarang terjadi percakapan mendalam ngalor ngidul yang menarik.

Nah kan, aku mulai menyalahkan keadaan lagi. Mungkin memang aku yang salah, siapa suruh aku nyaman bergaul dengan lingkunganku yang sekarang? Pasrah mengikuti (kalau bukan tenggelam) dalam arus kehidupan yang begini begini saja.

Ah, dunia memang membingungkan bukan? Penuh teka-teki, paradoks, dan ironi yang tak ada habisnya

Advertisements