Backpacker Jawa-Bali-Lombok part#1

by mylittlecanvas

-Tulisan ini dibuat untuk sharing, mungkin bisa membantu bagi yang ingin melakukan perjalanan serupa (karena kami sempat kesulitan menemukan data-data biaya, rute, waktu, dsb sewaktu merencanakan perjalanan ini)-

Tanggal 20 juni sampai 3 juli 2011 yang lalu, saya bersama lima orang teman merealisasikan rencana liburan ala backpacker. Rencananya kami ingin mendaki Gunung Rinjani terlebih dahulu, berlanjut ke Gili Trawangan, Bali, dan dalam perjalanan pulang mampir di beberapa tempat di Jawa mulai dari Surabaya, Baluran, Malang, Gunung Bromo-Semeru, Pekalongan, dan kembali ke Bandung

Hari pertama kami berangkat dari kosan seorang teman di Kebon Bibit, dari sana kami berjalan sampai ciwalk untuk naik angkot jurusan Margahayu-Ledeng ke Stasiun Kiara Condong Bandung. Kami memutuskan untuk menggunakan kereta ekonomi karena pertimbangan biaya, meskipun membutuhkan waktu kurang lebih 24,5 jam di kereta

Rute kereta ekonomi Bandung-Banyuwangi :

  • Kereta Kahuripan dari Bandung sampai stasiun Lempuyangan (Jogja) Rp 24.000,- (kereta berangkat jam 21.00 dan sampai cukup tepat waktu, jam 06.10 pagi keesokan harinya di Jogja)
  • Di jogja ganti kereta ke Banyuwangi Rp 35.000,- (kereta berangkat jam 07.30 dan tiba jam 22.45)

Keluar stasiun, kami berjalan keluar sekitar 100 meter menuju pelabuhan Ketapang, dan lanjut naik ferry menuju Bali (Gilimanuk) jam 00.30. Sejam kemudian kami sampai di Gilimanuk, dan keluar untuk mencari transport menuju Padang Bai (jangan lupa untuk membawa KTP karena semua orang diperiksa identitasnya di pos keluar pelabuhan).

Kami sangat beruntung karena menemukan bus langsung ke Padang Bai seharga 40.000/orang, dan ternyata bus itu adalah bus terakhir malam itu (sekitar jam 03.30 WITA).

-kintan-yunus-ali-tibo-laura-dika- @ferry menuju lembar-

Perjalanan Gilimanuk-Lembah Sembalun (kaki Gunung Rinjani, Lombok):

  • Gilimanuk-Padang Bai : bus, 5 jam, Rp 40.000,-
  • Padang Bai-Lembar (Lombok) : ferry, 4 jam, Rp 36.000,-
  • Lembar-Aikmel : elf, Rp 40.000,-
  • Aikmel-Sembalun: pick up, Rp 10.000,-

Kami sampai di Sembalun pada malam hari ketiga. Karena sudah terlalu malam, atas saran penjaga pos kami menginap di pos Sembalun setelah mendaftar untuk mendaki Rinjani (mengisi data-data orang yang naik dan membeli tiket Rp 10.000,-).

Oiya, di desa Sembalun ini terlihat bintang yang banyaakkk banget! Kami yang orang kota sampai terkagum2 ngeliatnya. Keren!! 😀

-bintang di Desa Sembalun-

Keesokan subuh jam 5 pagi akhirnya kami berangkat juga! Meskipun sudah sedikit lelah akibat perjalanan panjang, kami sangat bersemangat untuk mendaki!

Karena merasa kuat dan ingin mencari pengalaman, kami tidak menggunakan porter (tukang angkat barang), keputusan yang di kemudian hari kami sesali. Makanya bagi yang ingin mendaki Rinjani, apalagi perdana naik gunung (seperti 4 orang di antara kami), sangat disarankan menyewa porter untuk mempermudah dan mencegah masalah seperti kekurangan air dsb). Emang mahal sih, Rp 100.000,-/hari, tapi trust us, it’s so worth it!

Rencananya kami hari ini ingin berkemah di Pelawangan, tetapi ternyata waktu yang dibutuhkan tidak sesuai dengan yang tercantum di website Rinjani. Akhirnya karena kemalaman dan sudah terlanjur jauh dari pos 3, kami mendirikan camp di tengah jalan. Di sini kami sempat panik karena kurang membawa air, apalagi kami tidak tahu berapa jauh lagi untuk mencapai pelawangan. (Disarankan untuk membawa air minimal 2 botol besar/orang agar tidak sampai kekurangan seperti yang kami alami).

Perjalanan dari pos Sembalun sampai Pelawangan (dengan kecepatan pemula) :

  • Pos Sembalun-Pos I : 4 jam (pos 1 hanya berupa saung yang sudah rubuh, tidak ada air)
  • Pos I-Pos II : 1,5 jam (di pos II ada sumber air, dan tempatnya enak untuk beristirahat makan siang)
  • Pos II-Pos III : 2 jam, jalan mulai berbukit-bukit (pos III seperti pos I, tidak ada air)
  • Pos III-Pelawangan Sembalun : 4 jam + 2 jam keesokan harinya, kata orang ada 7 bukit antara pos III sampai pelawangan (orang-orang menyebutnya bukit-bukit penyesalan), yang membuat sulit adalah kami tidak dapat memperkirakan berapa jauh jarak yang ditempuh akibat bukit yang satu terhalang oleh bukit yang lain

Perjalanan rute Sembalun bagusss bangettt!!!! meskipun panas karena hampir tidak ada pohon di jalan yang kami lalui. Setelah pos III kami sudah berada di atas awan, wihh, seperti dikelilingi oleh permadani kapas!!

-pemandangan ke arah bawah, terlihat seperti semacam dermaga-

-perjalanan ke pos I-

-Gunung Rinjani dilihat dari pos I-

-permadani awan! :D-

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan sampai pelawangan dan nge-camp disana. Dari pelawangan kita bisa melihat hamparan awan di satu sisi, dan Danau Rinjani di sisi lainnya. Kerennn parah..!!! Disini akhirnya kami juga menemukan mata air. Rasanya luar biasa segar, jauh lebih enak dibanding air mineral! :9

Banyak juga terdapat bunga Edelweiss, bunga yang khas terdapat di gunung, mungil dan seputih salju

-sign system Pelawangan-

-Danau Rinjani dilihat dari Pelawangan-

-edelweiss di Pelawangan-

Bagi yang kuat dari Pelawangan bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak. Rata-rata orang mendaki mulai jam 2 pagi agar bisa sampai di puncak pada saat sunrise (perjalanan kurang lebih 4 jam). Sayangnya karena kelelahan, hanya dua orang dari kami (Ali & Dika) yang melanjutkan sampai puncak.

-foto ke bawah dari puncak-

Siang menjelang sore kami turun dari Pelawangan Sembalun menuju Danau Sagara Anak. Turunan yang dilalui agak terjal, namun perjalanan mendekati danau menyenangkan, jalan yang dilalui berbukit-bukit kecil dengan ilalang. Kami dikelilingi gunung dari semua sisi, karena danau ini merupakan kawah yang terbentuk akibat letusan beberapa ratus tahun yang lalu.

Sekitar 5 jam kemudian kami sampai di danau dan nge-camp disitu. Tempatnya menyenangkan, bagi yang mau juga bisa memancing di sana, karena banyak terdapat berbagai jenis ikan seukuran telapak tangan (kami pun sempat diberi banyak ikan lengkap dengan sambal super pedas oleh rombongan orang Lombok yang tiap tahun biasa naik Rinjani dan memancing disitu), nyumm..

-bapak baik hati dan ikan yang sedang dipanggang-


-danau Sagara beserta anak gunung rinjani yang baru ada sejak letusan tahun 2005-

Hari keempat kami mendaki menuju Pelawangan Senaru. Selama 8 jam kami melewati berbagai medan, mulai mendaki tebing dengan kemiringan 80 derajat, turunan berpasir, bebatuan, rerumputan ilalang, dan sebagainya.

Setelah melewati Pelawangan, kami mendirikan camp di pos III Senaru, karena tidak sempat untuk terus jalan ke bawah hari ini juga.

Keesokan harinya barulah kami menyelesaikan pendakian sampai gerbang Senaru. Total perjalanan kami di Rinjani menghabiskan waktu 5 hari 4 malam untuk menempuh jarak 25 km.

-Selanjutnya di part #2 saya akan menulis tentang perjalanan kami di Gili Trawangan dan Bali– 🙂

Advertisements