Lamunan Sore

by mylittlecanvas

Agama.

Sesuatu yang disebut bisa menyelamatkan oleh banyak orang

Menyelamatkan dari apa? Hanya Tuhan yang tahu

Manusia boleh berekspetasi seenaknya seperti apa surga dan neraka

Namun kalau hanya sekedar sungai susu dipenuhi bunga atau lidah api menjilat-jilat, kurasa manusia dapat membuat simulasinya disini

Surga dan neraka jauh lebih besar dari itu, atau bisa saja sebenarnya lebih dekat dengan kita lebih dari yang kita bayangkan, seperti ajaran Budha yang menganggap dunia inilah samsaranya, penuh penderitaan dari awal sampai akhir.

Aku suka heran dengan orang-orang yang berperang dan saling menyerang atas nama agama. Agama menjadi alat penghancur menurutku, bisa jadi memang benar itu adalah salah satu konspirasi terbesar di dunia ini.

Banyak sekali orang yang membuatku kecewa dengan agama, terlalu kecewa malah. Bukan Tuhannya, karena Tuhan terlalu mulia untuk diperbincangkan, melainkan para penganutnya (atau yang mengaku-ngaku sebagai penganutnya.)

Banyak yang menegur ketika aku mempertanyakan tentang agamaku. Memang kenapa? Toh itu gunanya Tuhan memberikan freewill. Manusia bisa menemukan Tuhannya dimana saja, aku misalnya, lebih bisa berkontemplasi tentang Tuhan di puncak gunung daripada di dalam gereja. Atau ada salah satu temanku yang mengatakan dia menemukan kesatuan dengan Tuhan dan semesta ketika sedang orgasme. Setiap individu memiliki pemikiran yang berbeda, dan itu sah-sah saja sejauh tidak merugikan orang lain.

Aku senang dengan pencarianku, dan masih dalam proses mencari sampai saat ini. Aku jadi agak mengerti berbagai simbol yang ada, baik yang diambil dari kaum pagan ataupun simbol baru. Aku juga sedikit tahu tentang akar ajaran zoroaster, semit, dan sebagainya. And I can deal with that. Tidak masalah kisah Maria dan Yesus mirip dengan kisah Isis dan Horus, atau penanggalan hari raya yang sama dengan peringatan dewa Ra. Karena aku pada dasarnya percaya semua Tuhan sebenarnya sama. Sepanjang kita berasal dan diciptakan dari titik yang sama, tujuan kita pun sama.

Bid’ah? Maybe.

Advertisements