Eat Pray Work

by mylittlecanvas

Tadi sore aku mengajar di rubel sahaja Cihampelas. Rencana untuk membuat kesenian clay urung dilaksanakan karena baik aku maupun Ka Tira tidak sempat untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan.

Alhasil kami mengajar seadanya. Membuat kartu bergambar jam, disisipi bahasa Inggris sesuai permintaan Ari yang sedang semangat-semangatnya belajar bahasa asing itu. Ian pun turut mencoba, walau logat sundanya yang kental membuatnya tidak dapat mengeja huruf f dan v. Live dibacanya lip, flower pun dibacanya plower. Ari tertawa terbahak mendengar ucapan Ian. Merasa lebih jago dia rupanya.

Sesaat sebelum magrib Aji minta ijin pergi duluan. Aku bertanya ada apa? Ingin mengamen buat bayar hutang, jawabnya. Hutang ke siapa? Tanyaku. Ke mama, kemarin Aji hutang sepuluh ribu buat beli makan.

Aku tertegun. Tampaknya bagi anak berusia dua belas tahun di hadapanku, tidak ada dalam kamusnya bahasan tentang kewajiban orang tua yang memberi makan anaknya. Dia menganggap wajar kalau dia menginginkan sesuatu, maka dia sendiri yang harus mengusahakannya. Bahkan untuk sekedar makan pun dia harus mengamen dulu. Rasanya ingin aku berbicara pada ayah-ibunya, memberitahu mereka bahwa ada yang salah. Tapi sudahlah, itu bukan hak ku, dan mungkin saja nilai-nilai yang kami anut sangat berbeda. Aku tidak berhak mencampuri urusan mereka. Hanya pendidikan anak-anak inilah wilayahku, tidak lebih dan tidak kurang.

Namun percakapan itu mengetuk kesadaranku. Selama ini aku selalu menganggap nasi yang mengepul di rice cooker dan tumpukan lauk di meja makan adalah hal yang biasa. Selalu tersedia tanpa perlu susah payah. Relativitas semakin terbukti. Apa yang normal bagi Aji adalah hal yang menyedihkan untukku, dan apa yang normal untukku mungkin menjadi surga kecil baginya. Entahlah apa aku masih bisa bersyukur bila berada di posisinya.

Mungkin bisa, karena bagiku itu adalah hal yang normal saja.

Advertisements