Casa

by mylittlecanvas

Aku tidak pantas untuk kau cintai, katamu. Mata hitammu yang pekat menatapku tajam. Aku selalu suka melihat matamu. Begitu hidup dan penuh gairah, tajam bagaikan mata elang yang sedang menatap bumi mencari mangsa.

Aku tahu, sahutku pelan. Tapi aku tetap mencintaimu. Bukan, bukan cinta penuh hasrat dibanjiri rasa ingin memiliki. Bukan pula gairah ingin bersatu dalam hubungan sepasang kekasih. Aku mencintaimu seperti aku mencintai matahari yang telah memberiku kehangatan. Aku mencintaimu seperti aku menyukai hujan yang membawa kesejukan dan kehidupan. Aku mencintaimu seperti aku menikmati mendaki gunung yang dipenuhi semangat dan adrenalin. Ya, aku mencintaimu.

Tapi aku bukanlah orang yang senang terikat, lanjutmu. Aku senang bebas berpergian, sendirian dalam egoku tanpa memikirkan siapa pun. Aku adalah segalanya, dan segalanya adalah aku.

Aku mengerti itu. Dan aku mengagumi pemikiranmu. Bukan berarti aku setuju, namun aku kagum dengan keberanianmu yang menentang arus. Jujur saja aku salut, kau boleh sebut aku korban kapitalis, atau orang yang tenggelam dalam arus, tapi aku memang tidak seberani dan sekuat engkau. Aku tidak akan bisa meninggalkan segala kenikmatan dan kenyamanan demi kebebasanku, meskipun harga yang kubayar menekan identitasku sebagai individu jenius ala Nietszche.

Kamu tersenyum. Itu pilihan, dan aku menghargai pilihan setiap orang, sambungmu. Lalu kamu menghisap rokokmu, disertai serangan batuk sedetik kemudian.

Sampai kapan kamu akan terus memasukkan racun ke tubuhmu? Tubuhmu sudah hancur. Apakah kamu serius dengan keinginanmu secepatnya meninggalkan dunia ini?

Untuk apa hidup terlampau lama kalau tidak dinikmati? Kekehmu. Ini surga duniaku. Surga akhirat permasalahan nanti, kalaupun itu memang ada.

Sembarangan, tukasku.

Ya, memang aku sembarangan. Bukankah sesungguhnya dalam lubuk hati kita semua memiliki pikiran seenaknya? Aku hanya tidak ingin pikiranku dipagari oleh aturan-aturan yang coba mereka ajarkan padaku.

Aku menghela napas. Ya memang, akupun sudah menyerah untuk menasehatimu. Kamu adalah milikmu, itu juga sudah aku pahami. Hanya kebodohanku saja yang membuatku tetap berharap dan menantikan, walaupun apa yang kutunggu hanyalah kesemuan belaka. Aku yang bodoh karena merindukan kedatanganmu, padahal tidak ada kata rencana dan pulang dalam kamusmu. Kamu selalu mengikuti kemana angin membawamu begitu saja, tanpa ikatan, tanpa paksaan.

Haha, tampaknya kamu sudah cukup memahamiku. Yang aku bisa katakan hanyalah jangan menunggu lagi, aku tidak pantas untuk kau cintai, apalagi untuk kau nantikan.

Aku hanya diam memandang Dionisiusku

Dia pun terdiam

Dan keheningan merebak menjadi bisunya malam

Advertisements