mylittlecanvas

If you can imagine it, you can realize it

New Life! Kerja vs S2

Long time no write. Akhirnya punya waktu buat mulai ngeblog lagi. Setelah 3 tahun menjalani kehidupan korporat yang super menyita waktu, beberapa bulan lalu gue memutuskan untuk resign dari kerjaan dan memilih untuk melanjutkan S2 ke University of Leeds, UK. Gambling? Iya. Pilihan berat antara kehidupan mapan di perusahaan dengan culture dan reputasi bagus, atau meninggalkan itu semua dan mengambil jalan yang belum pasti. Tapi berhubung gue orangnya suka tantangan dan hal terpenting buat gue adalah mencoba semua hal yang gue inginkan di kehidupan yang singkat ini, dengan berat hati gue terpaksa memilih untuk cabut. Intinya ketika bingung tanya diri sendiri. Hati lo pasti tau mana yang terbaik atau mana yang paling lo inginkan.

10 September menjadi hari pertama gue meninggalkan benua Asia. Gue memilih Qatar Airways karena ranknya lagi bagus, dan juga murah. Lumayan kan menghemat uang negara 9 juta dibanding kalau naik Emirates. Overall 26 jam penerbangan cukup menyenangkan karena fasilitas pesawat yang nyaman dan nyaris tidak adanya turbulensi.

IMG_1673

Aldo-Dani-Ridwan-Tomi-Marga, teman sengantuk seperjalanan @Qatar Airport

Kesan pertama ketika sampai di UK? Dingin! Ketika kita terbiasa dengan suhu 27-30 derajat di Indonesia (apalagi Medan yang panas), suhu 13-15 derajat di siang hari sungguh menyiksa. Terlebih lagi sekarang masih akhir summer! Kebayang matinya pas winter nanti. Sesampainya di bandara Leeds, kita patungan naik taxi bandara menuju kosan. Taxi bandara berkisar 36-40 Pounds untuk 4 tempat tujuan. Serunya disini, setiap 5 menit sekali cuaca bisa berubah. Dalam waktu 20 menit menunggu taxi, langit berubah dari biru cerah, mendadak berangin dan hujan, lalu muncul semburat pelangi, kemudian cerah lagi. Super random.

IMG_1798

Perjalanan dari bandara, No Filter needed 🙂

IMG_1801

Leeds City

Leeds sendiri bisa dibilang kota kecil di Inggris. Suasananya sangat nyaman dan menyenangkan, mirip dengan Jogja kalau di Indonesia. Banyak pelajar disini, dan hampir semua yang kita butuhkan (City Center, pasar, supermarket) bisa ditempuh dengan jalan kaki dari daerah universitas.

IMG_1808

Daerah kosan gue 😀

Beruntung gue mendapatkan kosan yang dekat dari kampus, 10 menit jalan kaki saja. Karena akomodasi kampus relatif lebih mahal dan lebih banyak peraturan, gue memilih private accomodation dengan dapur dan kamar mandi sharing. Teman seflat saya 2 orang dari UK, 1 Vietnam, 1 Turki, dan 1 Meksiko. Menariknya bila tidak serumah dengan orang Indonesia lain, kita bisa lebih belajar budaya dan karakter berbeda. Sesimpel bila lihat lemari dapur, semua bumbu Asia, Eropa, sampai Amerika Latin ada disitu.

That’s it kesan pertama memulai kehidupan baru. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih pada LPDP karena berkat beasiswa ini saya akhirnya bisa selangkah lebih dekat dengan mimpi saya. Sejauh ini gue bahagia dengan pilihan yang diambil, tanggung jawabnya adalah memaksimalkan pilihan ini sebaik-baiknya dan mengejar pengalaman sebanyak-banyaknya untuk kemudian dibawa kembali ke Indonesia kelak.

Leeds, 28 Sept 17

Advertisements

Crazy Time..!!

Belakangan aku mulai mempertanyakan lagi arti kebebasan. Semakin kehilangan rasa empati, tenggelam dalam rutinitas kantoran, dan malas berpikir yang berat-berat sudah lama kurasakan. Yah, manusiawi. Kejar duit jangan nanggung-nanggung, harus fokus. Haha, seperti biasa temanku yang satu itu memang selalu nyinyir dengan keseharian.

Masuk pagi, marah-marahin team, baik-baikin customer, nongkrong, tidur. Untungnya disini aku menemukan dua sahabat yang menyenangkan, bahkan mereka bisa menghibur di tengah ruwetnya lalu lintas Medan yang luar biasa tidak teratur. Sebut saja namanya Ray dan Abba.

Si Ray ini senasib denganku, terseret arus mainstream untuk bertahan hidup. Walau aku bekerja untuk perusahaan swasta dan dia bersumbangsih dalam mengumpulkan pundi-pundi negara, tetap saja judul utama kami adalah bekerja untuk diri sendiri.

Nah, si Abba ini nasibnya tidak begitu beruntung. Dengan paras ganteng dan tubuh tinggi, seharusnya dengan mudah dia mencari pekerjaan sebagai model atau sales marketing. Sayangnya, title refugee melarangnya untuk melakukan hampir semua hal. Dia tidak boleh bekerja, mencari uang, berbisnis, bahkan bergaul akrab dengan orang Indonesia. Untung dia cukup bandel, hampir setiap malam kami habiskan bertiga di tengah ketidak jelasan.

Balik lagi ke topik kebebasan. Kalau dilihat-lihat, orang awam umumnya akan bilang kalau Ray sudah bebas menikmati hidup dan Abba terkekang dalam statusnya. Yang satu cukup mapan untuk bersenang-senang, sementara yang lain harus menggantungkan hidup pada sedikit jatah dari U*HCR.

Tapi terkadang, aku justru salut (kalau bukan iri) melihat Abba. Dengan ekspresi sumringah setiap hari dia terlihat lebih menikmati hidup dibandingkan aku dan Ray. Jarang aku melihatnya stress, marah-marah, tertekan, emosi. Malah justru dia yang kerap menjadi penggembira, menghibur kami-kami yang sering kumpul dengan ekspresi muka terlipat sepulang kantor.

Akhir minggu lalu kami ke Sibayak, merayakan ulang tahun Ray. Sunrise yang indah, dilengkapi pemandangan yang menyegarkan mata. Kawah berasap, cekungan lembah dikelilingi pegunungan yang cantik, dan mi instan bakso menghibur semuanya. Di perjalanan turun entah kesambet apa si Abba menyetel speaker dengan volume (nyaris) maksimal. Tentu saja semua orang melirik ke arah kami.

Malu oi,” sikutku jengah.

Tidak apa-apa, ayo dancing kita,” sahutnya pede jaya.

Akhirnya aku dan Ray ikutan joget-joget ga jelas. Tertawa dan berlari tanpa peduli orang-orang di sekitar. Toh (semoga) tidak ada yang kenal. Kami bertiga berkejaran, melompat, dan random mengajak orang untuk ikutan rekaman video selfie.

Dan itu sangat menyenangkan.

20 menit tanpa membatasi diri, mengabaikan gaze, me-nol-kan pikiran, menggerakkan badan sesuai insting dan tanpa kendali.

Super menyenangkan 😀

Crazy Timee..!!!” Teriak Abba dengan senyum sumringahnya seperti biasa.

Dan aku pun rasanya tersenyum sama lebar dengannya waktu itu.

 

DSC00931

Smile! :D

Yah, tidak apalah, toh demi menyenangkan nenek, pikirku saat diajak pergi tadi pagi. Padahal minggu pagi sama dengan tidur puas bagiku, hal langka yang jadi kenikmatan beberapa kali dalam sebulan.

Ritual yang sama, lagu-lagu serupa – hanya kali ini banyak lagu dalam bahasa Ibrani, dan orang yang terkantuk-kantuk. Ah, salam damai pun rasanya formalitas saja. Malah kadang bumbu senyum pun tidak ada lagi.

Saat tahapan sakramen hampir selesai, masuklah banyak anak-anak meminta berkat. Sekitar 50 anak berlompat dan berjalan cepat ke altar. Sepertinya mereka baru selesai sekolah minggu, dengan pembimbing mengarahkan jalan mereka. Agak gaduh, sedikit malu-malu, dorong-dorongan disana-sini. Suasana hening pecah jadi riuh.

Tapi bukan keramaian itu yang jadi fokusku. Melainkan ekspresi mereka. Entah apa sebabnya senyum polos tersungging lebar di wajah mereka, raut riang yang berbinar, menunduk sedikit saat Pastor menyentuh dahi mereka, lalu berjingkat mencari orang tua mereka. Tersenyum lebar dan cekikikan satu sama lain, tampaknya bahagia sekali. Seluruh ruangan terasa lebih hidup, senyum selalu jadi energi positif yang menular. Bahasa universal.

Dan aku terenyuh.

Di saat rasa skeptis dengan manusia meningkat, rasanya anak-anak selalu jadi obat mujarab yang menghilangkan itu semua. Setidaknya, manusia terlahir dengan senyum tulus dan cengiran lebar di wajahnya.

 

 

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka:

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya.” 

(Mark 10)

Late Post Survey #saveSinabung

25 Oktober kemarin saya dan teman-teman Turun Tangan Medan survey ke pengungsian Sinabung, tepatnya di desa Payung, salah satu desa terdekat kaki gunung yang masih berpenghuni. Perjalanan sekitar 2 jam dari kota Medan, melewati Brastagi berlanjut ke jalur Payung. Mendekati lokasi, udara berdebu mulai terasa, mengharuskan kami mengenakan masker untuk berjaga-jaga. Setelah transit sebentar di rumah Wila, salah seorang teman, kami pun lalu lanjut ke titik pengungsian dekat desa. Sebagian besar penghuninya berasal dari desa kaki gunung yang tidak memungkinkan untuk ditinggali lagi.

Keadaan camp tidak memadai, tenda pleton yang dibagi kapling per keluarga, dilengkapi dengan dapur umum sederhana. Yang paling parah adalah tidak adanya sumber air bersih. Warga biasa membeli air drum sampai 5x sehari, yang tentunya memakan biaya tidak sedikit. Untuk mandi dan mencuci dilakukan di aliran parit coklat yang entah mengandung apa. Mereka sudah berada di sana kurang lebih selama 3 bulan, waktu yang terlalu lama untuk disebut mengungsi. Semoga saja setelah kunjungan Pak Jokowi kemarin mereka segera direlokasi ke tempat yang lebih layak.

Erupsi yang terjadi memang tidak besar, namun terbilang sering. Sehari bisa 2-3 kali letusan terjadi, memuntahkan awan jamur bedebu dan terkadang hujan lumpur. Jangan berani melewati batas aman, karena sudah jatuh beberapa korban akibat terkena awan panas yang datang tiba-tiba.

DSC_0454

Gunung Sinabung dari kejauhan, tampak sebagian sudah tandus temakan lahar dan awan panas

Erupsi yang terjadi saat kami di desa Payung

Erupsi yang terjadi saat kami di desa Payung

1a

Banyak ladang warga yang sudah tidak produktif terkena abu. Tomat, jeruk, dan sebagainya berlubang-lubang sampai dalam. Sedangkan untuk mencari mata pencaharian lain mereka belum memiliki modal. Untungnya beberapa SD dan SMP di sekitar sana masih berjalan normal, walau anak-anak itu harus berjalan cukup jauh dari pengungsian.

Bantuan yang tidak memanjakan, itulah peer yang harus dipikirkan ke depannya. Semoga Turun Tangan Medan bisa menyalurkan dana yang terkumpul dengan bijak besok. 🙂

Tenda pengungsian

Tenda pengungsian

Air drum yang harus dibeli warga untuk memasak/minum

Air drum yang harus dibeli warga untuk minum/memasak

Semangat itu Memang Menular

“Kami… sang… JUARA !!!”

137 murid SD berkumpul di Putussibau dalam rangka HUT Putussibau yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2014. Ini bukanlah acara biasa. Untuk pertama kalinya diselenggarakan acara besar yang mengumpulkan anak-anak dari seluruh penjuru Kabupaten Kapuas Hulu untuk berkompetisi, mendapat ilmu, dan berinteraksi satu sama lain.

Festival Anak Kapuas Hulu.

Sebuah acara yang digagas oleh Pengajar Muda VI Kapuas Hulu bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah. Latar belakang diadakannya Festival Anak Kapuas Hulu (FAKH) adalah menjawab permasalahan kurangnya daya saing dan kesempatan bagi siswa SD untuk menunjukkan kemampuannya, terutama anak-anak di pelosok daerah terpencil. Tujuan kami adalah memberi kesempatan yang sama bagi semua anak, mencoba mengatasi halangan infrastuktur akses jalan yang membuat banyak anak di pelosok tidak pernah menginjak ibu kota kabupaten, lebih-lebih kota provinsi. Ssetelah melalui proses yang panjang, akhirnya terkumpul peserta dari 15 kecamatan yang berjarak 2 sampai 12 jam perjalanan dari Putussibau.

FAKH dibagi menjadi 4 acara besar : Kapuas Juara, Kelas Inspirasi, Workshop melukis-menulis-mendongeng pada hari-1, serta Karnaval Anak pada hari-2.

1 copy

Kapuas Juara, Lomba Cerdas Cermat yang mengadopsi acara kuis Ranking 1

2 copy

Yuk tulis jawabannya dan angkat papannya!

Kelas Inspirasi, dari tentara, banker, tukang pos, sampai dokter datang untuk menyebarkan inspirasi pada anak-anak Kapuas Hulu. Profesi bukan hanya guru dan bidan saja ya nak, banyak mimpi untukmu di dunia ini :)

Kelas Inspirasi. Para tentara, banker, tukang pos, sampai dokter datang untuk bercerita dan menyebarkan inspirasi pada anak-anak Kapuas Hulu. Profesi bukan hanya guru dan bidan saja ya nak, banyak mimpi untukmu di dunia ini 🙂

Pak pemadam kebakaran tak ketinggalan turut serta membawa truk kebanggaannya. Anak-anak ditunjukkan atraksi semprotan selang raksasa juga loh!

Pak pemadam kebakaran tak ketinggalan turut serta membawa truk kebanggaannya. Anak-anak ditunjukkan atraksi semprotan selang raksasa juga loh!

Workshop mendongeng, ayo jangan malu tunjukkan ekspresimu!

Workshop mendongeng, ayo jangan malu tunjukkan ekspresimu

Workshop melukis, mari kita lestarikan motif Dayak yang mulai punah

Workshop melukis, mari kita lestarikan motif Dayak yang mulai punah

Dio, murid Jeffry yang ganteng dan bertalenta melukis

Dio, murid Jeffry yang ganteng dan bertalenta melukis

Akhir hari pertama, walau letih semua masih semangat

Akhir hari pertama @Rumah Adat Melayu Kedamin, walau letih semua masih semangat

Hari kedua kami pindah tempat ke Kantor Pemda untuk Karnaval Anak. Rombongan dipimpin oleh Marching Band SMA 2 dan sumbangan barongsai dari Kodim, serta ditutup oleh mobil pintar. Anak-anak tampak meriah dalam kostum adat daerah masing-masing atau profesi impian mereka. Dilepas langsung oleh Pak Lai, Bupati Kapuas Hulu, iring-iringan berangkat menyusuri jalan protokol utama Putussibau.

10 copy

11 copy

12 copy

Let's go!!!

Let’s go!!! Kami.. sang… JUARA!!!

13 copy

Di perjalanan anak-anak mampir untuk menyampaikan 'surat harapan' pada masyarakat. Ada yang sudah berani, yang malu-malu pun belajar untuk berani

Di perjalanan anak-anak mampir untuk menyampaikan ‘surat harapan’ pada masyarakat. Ada yang sudah berani, yang malu-malu pun belajar untuk berani

Para peserta dari Suku Dayak

Para peserta dari Suku Dayak pedalaman

Peserta dari Suku Melayu pesisir

Peserta dari Suku Melayu pesisir

16 copy

Murid2 SD kota yang tidak memiliki baju adat keluarga lagi

Selesai Karnaval peserta dan pendamping masuk ke kantor Dinas Pendidikan untuk pembagian hadiah dan penutupan. Selamat untuk semuanya!!!

 

20 copy

Pak Bulin dari bidang TK/SD Disdikpora Kapuas Hulu

21

Sayang acara harus berakhir,, selamat pulang ke desa masing-masing.. Sampai jumpa di FAKH selanjutnya!

Selain untuk anak-anak, FAKH juga jadi acara pertama yang melibatkan panitia dari gabungan OSIS SMA2 Putussibau dan memberikan pengalaman lapangan untuk mereka. Acara ini tidak bisa berjalan lancar tanpa kalian. Love you gengs!

Uyeah foto behind the scene! Selain untuk anak-anak, FAKH juga jadi acara pertama yang melibatkan panitia dari gabungan seluruh OSIS SMA Putussibau dan memberikan pengalaman lapangan untuk mereka. Acara ini tidak bisa berjalan lancar tanpa kalian. Love you gengs!

Dengan dana minim dan waktu terbatas, di luar dugaan acara berlangsung sukses dan meriah! Para peserta terlihat antusias dan bersemangat, panitia dan banyak pihak yang membantu secara sukarela pun turun tangan secara maksimal (so thank you for that!). Guru-guru, dinas, pemda, dan masyarakat yang melihat pun jadi tergerak. Bahkan di acara pisah sambut kami Pak Sekda menjanjikan keterlibatan stakeholder daerah yang lebih besar di dunia pendidikan, sesuatu yang membuat kami haru bahwa gerakan ini semakin hari semakin menampakkan hasil. PM VIII lalu menceritakan kalau itu bukan sekedar ucapan- syukurlah!

Bukan hanya di tataran stakeholder formal, komunitas setempat seperti PAC (Putussibau Art Community), Menyadik Art, dan Osis SMA seolah ‘kecanduan’ untuk ikut mengadakan berbagai kegiatan yang mengajak masyarakat lebih memperhatikan pendidikan. Sebut saja Kapuas Membaca dan #iuRUN yang diselenggarakan bulan ini.

Kebaikan itu menular, kalimat Pak Anies yang selalu terngiang di kepala kami. Semangat, optimisme, dan sumbangsih konkrit pasti dapat membuat Indonesia jadi semakin baik. Dan seperti kata beliau, aku ingin dengan bangga suatu hari kelak berkata pada anakku : “negara kita memang belum sempurna sayang, tapi ibumu tidak menyerah dan hanya menjelek-jelekkan pemerintah. Ibu memilih untuk ikut berbuat kebaikan dan menularkannya. Bila saat ini situasi masih buruk, giliran generasimu untuk meneruskan kebaikan itu..