mylittlecanvas

If you can imagine it, you can realize it

Royal Wedding: What an Experience!

The British Royal Family memang terkenal di seantero dunia. Ketika Prince Harry mengumumkan kabar pernikahan yang akan dilangsungkan tahun ini, saya langsung bersorak dalam hati. Yes, momennya pas waktu saya tinggal di negara yang sama!

Bersama teman-teman yang juga antusias untuk datang langsung ke Windsor Castle, sekitar 12 orang rombongan datang dari Leeds (5 jam naik bus ke London, lumayan). Paradoksnya, justru orang2 UK sendiri tidak seantusias orang2 diluar UK mengenai Royal Wedding ini. Amber dan Rob, 2 teman serumah saya yang asli sini, malah heran untuk apa saya jauh-jauh ke London untuk melihat acara itu. “Just stay at home and watch from television,” saran Rob.

Tapiii.., berhubung jiwa turis ini masih kuat dan kapan lagi gitu loh, biasa liat Prince William dan Harry dari jaman kinyis-kinyis di TV doang, masa sudah ada disini masih liat dari TV aja?

Perjalanan dari London menuju Windsor sangat lancar. Walau antrian panjang saat transit ganti kereta, crowd management disini sangat rapi, kerumunan orangnya pun sangat tertib, tidak ada yang mencoba menyela antrian, walaupun di beberapa bagian tidak ditutup pembatas. Salut deh. Asyiknya lagi, saat transit ada petugas-petugas yang membagikan suncreen, air, dan coklat gratisan. Nama stasiun di Windsor pun diubah jadi Harry and Meghan Central. Niat.

Saya sampai di Windsor Castle sekitar jam 11 siang. Saat menyusuri jalan dari stasiun ke castle, banyak photo booth lucu yang tersedia. Banyak juga bendera UK, Union Jack, yang dibagikan oleh toko-toko sekitar situ.

IMG_0018

f4519ed4-a8ea-4a57-85bf-84e5702fc224.jpg

6319CC6E-1617-4836-B708-7EEF12326EAA

Keramaian di sekitar castle. Untungnya orang sini anteng2, jadi masih bisa nyelip-nyelip, haha

452A7AA9-F080-4EF3-AC23-814490CD10AE

Di halaman castle ada beberapa big screen yang menayangkan prosesi pernikahan. Suasana cukup heboh saat mobil anggota kerajaan tampak di layar, dan beberapa detik kemudian mobil2nya lewat beneran di depan kita. Tambahan lagi, saya dikelilingi beberapa cewek bule yang terus-terusan teriak, “OMG! OMG! OMG! Look at that! OMG!” setiap Harry dan Meghan bertukar sumpah sampai berciuman. Meriah.

Seusai prosesi dan lagu kebangsaan, tibalah saat-saat yang dinantikan. Parade mempelai keliling Windsor. Kerumunan semakin bersemangat dan heboh, lalu WUSSHHH! Lewatlah Harry dan Meghan di depan kita. Kyaa!! Gue jadi ikutan teriak-teriak. Harry ganteng! Meghan cakep banget! Saya pribadi suka make up simple yang lebih memperlihatkan kecantikan natural.

Overall, saya sangat menikmati suasana di Windsor kemarin. Bahagia liat prosesi yang lancar dan menyenangkan (melting ga sih liat pasangan yang ngerasa dunia cuma milik berdua di saat jutaan orang nonton mereka?), senang bisa menyaksikan langsung momen bersejarah, merasakan berada di tengah-tengah masyarakat sana (betapa bersemangatnya mereka menyanyikan lagu God Save the Queen, baiknya petugas2 keamanan yang memang berniat membantu dan nggak nyolot, sampai budaya yang menyebalkan seperti orang UK cukup egois untuk mempertahankan wilayah tiker yang dibawa saat ramai-ramainya karena mereka merasa sudah datang duluan dan mengetek tempat).

Yang juga membuat salut, pasangan ini berani untuk melanggar banyak tradisi. Keduanya beda negara, beda agama (walau Meghan akhirnya dibaptis sebelum menikah), beda ras (half-black pula), beda status social, dan tetap adem ayem di tengah pemberitaan media dan netijen yang kejam. Sepanjang misa kita pun disuguhkan banyaknya orang-orang BME yang berperan mulai dari pastur sampai penyanyi. Kalau Royal Family saja bisa se-open minded itu, kapan ya masyarakat kita bisa menerima perbedaan dengan lapang dada? 🙂

LV

Love! Untung posisi pas banget jadi bisa kelihatan jelas XD

IMG_9912

Masyarakat mengibarkan bendera dengan semangat saat penikahan disahkan

B7FB0DDF-81E5-4DBA-B046-ABA56422D835

Rombongan PPI Leeds

2ACBF1C3-F793-4F3F-8967-FDD921C5C453

Banyak yang pakai kostum niat. Bahkan ada yang pake Hanbok lengkapnya Korea.

E6684A1A-CCC2-4197-B0B6-98477940BFAA

Windsor Castle saat tamu bubaran

Kerumunan saat acara usai. Stasiun kereta sampai ditutup sementara saking ramainya. Akhirnya kita jalan-jalan di sekitar sana sampai jam 4 sore sebelum bisa kembali ke London. Hari yang menyenangkan! 😀

P.S: Jarang-jarang cuaca UK secerah ini seharian, pake pawang hujan ga ya mereka? Haha

Advertisements

5 First Impressions Living in UK

Pindah ke tempat baru selalu membuat deg-degan. Penasaran dan cemas bercampur jadi satu, ditambah kehectic-an bila waktu terbatas.

Waktu saya pindah ke UK September lalu, persiapan dilakukan serba mendadak. Visa jadi 10 hari sebelum kuliah mulai akibat tragedi tas beserta dompet dan paspor dicolong orang, beli tiket pesawat h-5, dan hari terakhir ngantor h-2 sebelum berangkat. Dengan persiapan ala kadarnya, akhirnya sampailah saya di benua sebelah. Gimana impresi pertama waktu sampai disana?

1. British Accent

Denger british accent di film2 UK semacam Sherlock Holmes BBC sudah membuat pusing. Dan ternyata, dengan orang native sini ngomong bikin lebih pusing. Gue sampai kadang mikir, ini gue yang bego banget bahasa inggris atau gimana? Orang-orang ngomongnya cepet banget, kedengeran kaya kumur-kumur. Belum lagi ada banyak banget accent yang berbeda-beda dari utara sampai selatan. Misalnya aksen Yorkshire yang mengucapkan lucky dengan ‘luky’, bukan ‘lacky’ seperti yang selama ini kita pelajari, atau ada beberapa area yang menghilangkan konsonan-konsonan seperti ‘t’ dan ‘r’.

A: “Could you pass me the wo’ah?”

Gue: “pardon?”

A: “Wo’ah”, doi nunjuk teko air deket gue.

Water jir.

Untungnya (atau ruginya?) hampir semua dosen gue berasal dari luar UK, dan broken english terdengar jauh lebih jelas buat saya.

1

Source

2. British Weather

Pertama landing di Leeds, badan saya langsung menggigil karena angin yang kencang dan suhu 11 derajat celcius (masih cupu, baru dateng dari kota 38 derajat dengan sinar matahari sepanjang hari). Tidak hanya itu, perubahan cuaca yang mendadak membuatku kaget. Saat saya keluar bandara, matahari bersinar walau langit sedikit berawan. 5 menit kemudian, langit mendadak gelap dan hujan turun. Belum sempat mengeluarkan payung, hujan sedikit menyingkir memberi jalan pelangi untuk muncul. Luar biasa indah dan random.

Di beberapa minggu awal, cuaca cukup membuatku kelam dan mellow. Selain jarang ada matahari, hujan dan mendung hampir selalu ada setiap hari. Saking suramnya, topik cuaca bisa jadi pembuka percakapan dengan stranger disini, dan kegetiran yang sama akan membawa ke obrolan lebih jauh, haha.

2

Source

3. Politeness

Seumur-umur, baru disini ngerasain setiap ga sengaja nabrak orang, orangnya yang minta maaf. Tidak salah kalau orang UK terkenal dengan kesopanannya. “Please, sorry, dan cheers! (thanks)” sangat sering diucapkan. Uniknya, saat kita bilang thank you, balesannya ‘no worries’!

3.gif

Source

4. Feels Like Beijing

Pas memutuskan untuk kuliah di UK, saya membayangkan akan berada di tengah-tengah lingkungan yang beragam dan didominasi oleh orang UK. Tentunya asyik membayangkan bisa belajar british accent dari teman-teman sekelas setiap hari. Ternyata, tidak saudara-saudara. Kenyataan di lapangan, mayoritas mahasiswa di UK berasal dari negeri bambu. Terutama untuk business school. Sebagai gambaran, dari 170 mahasiswa di kelas saya, hanya 3 orang asli UK, sekitar 20 orang European, 20 South East Asia, 3 Afrika, 2 Amerika Latin, dan sisanya orang C (70% murid!). Boro-boro latihan speaking tiap hari seperti ekspektasi, yang ada saya malah ‘dipaksa’ mendengar bahasa C tiap hari sampai kadang batin ini ingin berteriak, “kalau mau ngobrol pake bahasa itu ga usah kuliah jauh-jauh disini dong!” Belum lagi kalau lagi kerja kelompok, bahkan tampilan laptop mereka semua huruf mandarin. Bayangin ngerjain SPSS yang njelimet dalam bahasa alien, arrgh! Bukan maksud untuk rasis, karena saya sendiri keturunan C (yang tidak bisa bahasa C samsek), cuma kadang harus mengingatkan diri kalau saya lagi kuliah di UK, bukan di Beijing.

3

Source

5. Harga Bumbu Lebih Mahal dari Daging

Kalau belanja ke pasar duit 20 ribu sudah cukup untuk beli bumbu bikin ayam cabe 5 porsi, disini bumbu rempah-rempah harganya bikin perut mules. Contohnya daun jeruk beku 10 lembar £1 atau 19 ribu, kunyit 2 ruas, bawah merah 5 biji, lengkuas 5 cm, cabe merah, sereh dan ketumbar semua masing-masing dihargai 19 ribu juga. Kebayang kan, kalau untuk masak ayam cabe saja biasa kami bisa menghabiskan lebih dari £13 (sekitar 250 ribu) untuk bumbu, lebih mahal dari harga ayam seekor (£3) atau daging sapi sekilo (£7).

Sebaliknya, harga pasta dan sausnya murah meriah disini. Pasta sekilo bisa didapat dengan harga 20p (4000 rupiah), sedangkan beras sekilo sekitar £1. Alhasil, saat keuangan miris, pasta menjadi pilihan utama untuk berhemat, sedangkan nasi dengan lauk pauk Indonesia terasa jadi sesuatu yang mewah disini (fix kangen mamang ayam penyet sama tukang bakso!)

5.jpg

Source

Sekian kesan pertama yang sudah tertunda 7 bulan penulisannya (maaf sebenarnya sudah basi, haha). Disclaimer: semuanya subjektif menurut perspektif pribadi yaa.

New Life! Kerja vs S2

Long time no write. Akhirnya punya waktu buat mulai ngeblog lagi. Setelah 3 tahun menjalani kehidupan korporat yang super menyita waktu, beberapa bulan lalu gue memutuskan untuk resign dari kerjaan dan memilih untuk melanjutkan S2 ke University of Leeds, UK. Gambling? Iya. Pilihan berat antara kehidupan mapan di perusahaan dengan culture dan reputasi bagus, atau meninggalkan itu semua dan mengambil jalan yang belum pasti. Tapi berhubung gue orangnya suka tantangan dan hal terpenting buat gue adalah mencoba semua hal yang gue inginkan di kehidupan yang singkat ini, dengan berat hati gue terpaksa memilih untuk cabut. Intinya ketika bingung tanya diri sendiri. Hati lo pasti tau mana yang terbaik atau mana yang paling lo inginkan.

10 September menjadi hari pertama gue meninggalkan benua Asia. Gue memilih Qatar Airways karena ranknya lagi bagus, dan juga murah. Lumayan kan menghemat uang negara 9 juta dibanding kalau naik Emirates. Overall 26 jam penerbangan cukup menyenangkan karena fasilitas pesawat yang nyaman dan nyaris tidak adanya turbulensi.

IMG_1673

Aldo-Dani-Ridwan-Tomi-Marga, teman sengantuk seperjalanan @Qatar Airport

Kesan pertama ketika sampai di UK? Dingin! Ketika kita terbiasa dengan suhu 27-30 derajat di Indonesia (apalagi Medan yang panas), suhu 13-15 derajat di siang hari sungguh menyiksa. Terlebih lagi sekarang masih akhir summer! Kebayang matinya pas winter nanti. Sesampainya di bandara Leeds, kita patungan naik taxi bandara menuju kosan. Taxi bandara berkisar 36-40 Pounds untuk 4 tempat tujuan. Serunya disini, setiap 5 menit sekali cuaca bisa berubah. Dalam waktu 20 menit menunggu taxi, langit berubah dari biru cerah, mendadak berangin dan hujan, lalu muncul semburat pelangi, kemudian cerah lagi. Super random.

IMG_1798

Perjalanan dari bandara, No Filter needed 🙂

IMG_1801

Leeds City

Leeds sendiri bisa dibilang kota kecil di Inggris. Suasananya sangat nyaman dan menyenangkan, mirip dengan Jogja kalau di Indonesia. Banyak pelajar disini, dan hampir semua yang kita butuhkan (City Center, pasar, supermarket) bisa ditempuh dengan jalan kaki dari daerah universitas.

IMG_1808

Daerah kosan gue 😀

Beruntung gue mendapatkan kosan yang dekat dari kampus, 10 menit jalan kaki saja. Karena akomodasi kampus relatif lebih mahal dan lebih banyak peraturan, gue memilih private accomodation dengan dapur dan kamar mandi sharing. Teman seflat saya 2 orang dari UK, 1 Vietnam, 1 Turki, dan 1 Meksiko. Menariknya bila tidak serumah dengan orang Indonesia lain, kita bisa lebih belajar budaya dan karakter berbeda. Sesimpel bila lihat lemari dapur, semua bumbu Asia, Eropa, sampai Amerika Latin ada disitu.

That’s it kesan pertama memulai kehidupan baru. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih pada LPDP karena berkat beasiswa ini saya akhirnya bisa selangkah lebih dekat dengan mimpi saya. Sejauh ini gue bahagia dengan pilihan yang diambil, tanggung jawabnya adalah memaksimalkan pilihan ini sebaik-baiknya dan mengejar pengalaman sebanyak-banyaknya untuk kemudian dibawa kembali ke Indonesia kelak.

Leeds, 28 Sept 17

Crazy Time..!!

Belakangan aku mulai mempertanyakan lagi arti kebebasan. Semakin kehilangan rasa empati, tenggelam dalam rutinitas kantoran, dan malas berpikir yang berat-berat sudah lama kurasakan. Yah, manusiawi. Kejar duit jangan nanggung-nanggung, harus fokus. Haha, seperti biasa temanku yang satu itu memang selalu nyinyir dengan keseharian.

Masuk pagi, marah-marahin team, baik-baikin customer, nongkrong, tidur. Untungnya disini aku menemukan dua sahabat yang menyenangkan, bahkan mereka bisa menghibur di tengah ruwetnya lalu lintas Medan yang luar biasa tidak teratur. Sebut saja namanya Ray dan Abba.

Si Ray ini senasib denganku, terseret arus mainstream untuk bertahan hidup. Walau aku bekerja untuk perusahaan swasta dan dia bersumbangsih dalam mengumpulkan pundi-pundi negara, tetap saja judul utama kami adalah bekerja untuk diri sendiri.

Nah, si Abba ini nasibnya tidak begitu beruntung. Dengan paras ganteng dan tubuh tinggi, seharusnya dengan mudah dia mencari pekerjaan sebagai model atau sales marketing. Sayangnya, title refugee melarangnya untuk melakukan hampir semua hal. Dia tidak boleh bekerja, mencari uang, berbisnis, bahkan bergaul akrab dengan orang Indonesia. Untung dia cukup bandel, hampir setiap malam kami habiskan bertiga di tengah ketidak jelasan.

Balik lagi ke topik kebebasan. Kalau dilihat-lihat, orang awam umumnya akan bilang kalau Ray sudah bebas menikmati hidup dan Abba terkekang dalam statusnya. Yang satu cukup mapan untuk bersenang-senang, sementara yang lain harus menggantungkan hidup pada sedikit jatah dari U*HCR.

Tapi terkadang, aku justru salut (kalau bukan iri) melihat Abba. Dengan ekspresi sumringah setiap hari dia terlihat lebih menikmati hidup dibandingkan aku dan Ray. Jarang aku melihatnya stress, marah-marah, tertekan, emosi. Malah justru dia yang kerap menjadi penggembira, menghibur kami-kami yang sering kumpul dengan ekspresi muka terlipat sepulang kantor.

Akhir minggu lalu kami ke Sibayak, merayakan ulang tahun Ray. Sunrise yang indah, dilengkapi pemandangan yang menyegarkan mata. Kawah berasap, cekungan lembah dikelilingi pegunungan yang cantik, dan mi instan bakso menghibur semuanya. Di perjalanan turun entah kesambet apa si Abba menyetel speaker dengan volume (nyaris) maksimal. Tentu saja semua orang melirik ke arah kami.

Malu oi,” sikutku jengah.

Tidak apa-apa, ayo dancing kita,” sahutnya pede jaya.

Akhirnya aku dan Ray ikutan joget-joget ga jelas. Tertawa dan berlari tanpa peduli orang-orang di sekitar. Toh (semoga) tidak ada yang kenal. Kami bertiga berkejaran, melompat, dan random mengajak orang untuk ikutan rekaman video selfie.

Dan itu sangat menyenangkan.

20 menit tanpa membatasi diri, mengabaikan gaze, me-nol-kan pikiran, menggerakkan badan sesuai insting dan tanpa kendali.

Super menyenangkan 😀

Crazy Timee..!!!” Teriak Abba dengan senyum sumringahnya seperti biasa.

Dan aku pun rasanya tersenyum sama lebar dengannya waktu itu.

 

DSC00931

Smile! :D

Yah, tidak apalah, toh demi menyenangkan nenek, pikirku saat diajak pergi tadi pagi. Padahal minggu pagi sama dengan tidur puas bagiku, hal langka yang jadi kenikmatan beberapa kali dalam sebulan.

Ritual yang sama, lagu-lagu serupa – hanya kali ini banyak lagu dalam bahasa Ibrani, dan orang yang terkantuk-kantuk. Ah, salam damai pun rasanya formalitas saja. Malah kadang bumbu senyum pun tidak ada lagi.

Saat tahapan sakramen hampir selesai, masuklah banyak anak-anak meminta berkat. Sekitar 50 anak berlompat dan berjalan cepat ke altar. Sepertinya mereka baru selesai sekolah minggu, dengan pembimbing mengarahkan jalan mereka. Agak gaduh, sedikit malu-malu, dorong-dorongan disana-sini. Suasana hening pecah jadi riuh.

Tapi bukan keramaian itu yang jadi fokusku. Melainkan ekspresi mereka. Entah apa sebabnya senyum polos tersungging lebar di wajah mereka, raut riang yang berbinar, menunduk sedikit saat Pastor menyentuh dahi mereka, lalu berjingkat mencari orang tua mereka. Tersenyum lebar dan cekikikan satu sama lain, tampaknya bahagia sekali. Seluruh ruangan terasa lebih hidup, senyum selalu jadi energi positif yang menular. Bahasa universal.

Dan aku terenyuh.

Di saat rasa skeptis dengan manusia meningkat, rasanya anak-anak selalu jadi obat mujarab yang menghilangkan itu semua. Setidaknya, manusia terlahir dengan senyum tulus dan cengiran lebar di wajahnya.

 

 

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka:

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya.” 

(Mark 10)